Iklan

Astaga !!! Bakso dan Mie Mengandung Boraks, BPOM Manado Tak Miliki Kewenangan Penindakan

Posted by Marchel Hormati on Senin, 19 Februari 2018


Deprov, identitasnews.com - Boraks merupakan bahan Pengawet yang dikenal masyarakat awam mengandung kimia yang banyak dipergunakan untuk industri kertas, pengawet kayu, pengontrol kecoa dan industry keramik.  Di masyarakat luas boraks sering disalahgunakan sebagai bahan tambahan makanan untuk pembuatan kerupuk, mie basah, lontong, bakso dan produk makanan lainnya.
Boraks merupakan bahan beracun bagi manusia, ia bisa diserap oleh tubuh dan disimpan secara kumulatif dalam hati, otak, usus, atau testis yang berdampak dosisnya dalam tubuh semakin lama semakin tinggi. Bila konsumsi secara terus menerus dapat menyebabkan kanker.
Boraks juga memiliki efek racun berbahaya yang dapat mengganggu sistem metabolisme dalam tubuh. Namun, bahan ini memiliki tingkat efek keracunan yang berbeda. Yang pasti adalah bahaya boraks pada makanan bagi kesehatan sangat mematikan.
Mendengar hal tersebut Komisi IV DPRD Sulut langsung memanggil hearing Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kota Manado Dinas Kesehatan Provinsi Sulut dan Dinas Penindusrian dan Perdagangan Provinsi Sulut terkait penemuan bahan makanan Bakso dan mie yang mengandung Boraks di jual di pasar Bersehati dan Pasar Pinangsungkulan Karombasan.
Hearing ini di pimpin langsung oleh Ketua DPRD Sulut Andrei Anggouw didampinggi Ketua Komisi IV James Karinda, Sekertaris Komisi IV Inggrid Sondakh dan anggota DPRD Sulut  Lainya Senin (19/02/2018)
Kepala BPOM Manado, Dra Rustyawati Apt, MKes, Epid,  menjelaskan BPOM Manado tidak mempunyai kewenangan dalam penindakan terhadap produsen makanan yang telah menyalahi aturan dan perundang-undang Pengawasan Obat dan Makanan untuk memperkuat kerja BPOM.
“Sejauh ini kami hanya melaksanakan fungsi koordinasi dengan instansi terkait di pemerintah daerah termasuk ketika ditemukan obat dan makanan yang mengandung bahan berbahaya seperti boraks yang heboh beberapa minggu.
Terkait penemuan bakso dan mie basah yang dijual di Pasar Karombasan dan Pasar Bersehati yang mengandung boraks, Rustyawati mengungkapkan bahwa produsen bakso dan mie tidak wajib mengantongi izin produksi.
“Karena mie itu produk pangan yang masa penggunaannya tidak lebih tujuh hari sehingga produsennya tidak wajib memiliki izin. Begitu pulu nama-nama produsen mie menggunakan boraks tidak dipublish karena butuh kesepakatan dengan pemerintah dan pihak terkait,”ungkapya.
Meski demikian pada rapat tersebut BPOM Manado menyerahkan nama-nama produsen mie dan bakso yang menggunakan boraks kepada DPRD Sulut yang diterima Ketua DPRD Andrei Angouw.
Ketua DPRD Sulut, Andrei Angouw, yang memimpin rapat tersebut mendorong kepada BPOM pro aktif. Begitupula perlu peningkatan koordinasi dinas kesehatan dan dinas perdagangan perindustrian kabupaten kota dan provinsi.
Politisi PDIP ini mengungkapkan penemuan produsen bakso dan mie menggunakan boraks diberi peringatan keras jika kemudian masih ditemukan kasus yang sama maka bisa ditindaklanjuti melalui proses hukum,”Kunci Andrei Angouw.
Sementara itu Kepala Dinas Perindag Provinsi Sulut Jenny Karouw mengatakan pihaknya akan terus memantau penjualan Mie Bakso dan Mie basah jadi apalagi kedepatan akan kami sita dan ini sangat menggangu kesehatan bagi para pengguna tutur Kadis Kesehatan Provinsi Sulut Debbie Kalalo. (eby)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Berita Terkait

19.30.00

0 komentar:

Posting Komentar