Iklan

Kasus Pembunuhan Rinondoran, Dalam Press Release Polres Minut Ternyata Dipicu Dendam Dan Miras

Posted by Unknown on Jumat, 21 Juli 2017

Pattiwael Beri Apresiasi Kinerja Dan Trak Record Polsek Likupang, Terkait Kasus Ini



Airmadidi, Identitasnews.com - Kasus Penganiayaan yang terjadi pada 1 Juli 2017 di Desa Rinondoran Kecamatan Likupang Timur, sehingga menewaskan korban lelaki Anton Loway meninggal dunia, cukup rumit dan memusingkan kepala bagi aparat Polri yang tidak terlatih.
Akan tetapi, berbekal naluri dan skill diatas rata-rata, Polres Minahasa Utara (Minut) di bawah komando AKBP Alfaris Pattiwael SIK.MH, kasus runyam itupun mampu dituntaskan.

Kapolres Minut Alfaris Pattiwael di dampingi Wakapolres Joyce Wowor, Kabag Ops Kompol Farly Rewur, para Kasat dan Kapolsek serta jajarannya dalam Press Release, Jumat (21/07/17) tadi, mengungkap kasus penganiayaan menyebabkan Anton Loway meninggal, secara terperinci.
“Kasus ini cukup luar biasa menyita perhatian, karena terlalu lama pengungkapannya. Biasanya paling lama 1×24 jam sudah dapat terungkap,” terang Kapolres Minut Alfaris Pattiwael.

Pattiwael menguraikan kronologis dan upaya Polres Minut dan jajaran, mengungkap serta menangkap pelaku penganiayaan yang mengakibatkan korban Anton Loway meninggal.
"Kronologisnya berawal Robby Hatibae (Pelaku) mengkonsumsi miras (Minuman Keras) jenis cap tikus di satu tempat acara tepatnya di jaga 2 desa Rinondoran Likupang Timur, pada tanggal 1 Juli 2017 sekitar pukul 20.00- 23.00 Wita. Dan di tempat berbeda  Anton Loway (Korban) juga meneguk miras.
Usai menenggak miras pelaku Robby Hatibae, pulang ke rumah untuk istirahat. Perlu diketahui, rumah pelaku Robby Hatibae tinggal bersama isterinya Yunita Lahemping adalah rumah dari Gustin Mokodompis,"urai Pamen Polri kharismatik dibidang rekayasa lalu lintas itu.

Sekitar pukul 02.00 Wita atau dinihari tanggal 2 Juli 2017, lanjut Kapolres, Robby dibangunkan oleh tuan rumah yakni Gustin Mokodompis bahwa ia melihat Korban mabuk dan tergeletak tidur di beranda rumahnya. Dia meminta Pelaku membawa pulang Korban, tetapi berpura-pura menolak dan kembali masuk kamar.
"Kemudian sekitar pukul 02.30, Pelaku Robby kembali keluar mengecek keberadaan korban, ternyata korban sudah tidak ada diberanda rumah melainkan sudah tergeletak di pinggir jalan. Mungkin karena masih pengaruh miras, pelaku Robby teringat kejadian yang pernah dialaminya. Dimana dirinya (Robby) pernah ditampar dan dikejar dengan parang oleh Anton (Korban). Diduga timbul dendam, Robby kembali ke dalam rumah mengambil parang dan balik ke luar, lalu langsung melakukan penganiayaan pada Anton. Dengan menebas pada bagian leher 2x dan pelipis 1x, setelah melihat korban bersimbah darah. Robby  kembali masuk ke dalam rumah kemudian menyimpan parang (barang bukti), dan menceritakan kepada istrinya bahwa dia telah menganiaya korban,”tukas perwira berdarah Maluku Tenggara itu.

Sekitar jam 4.30 wita di depan rumah tempat dimana pelaku tinggal, mulai ramai karena heboh ada korban penganiayaan. Korban-pun dibawa ke rumah sakit Manembo-nembo Bitung oleh masyarakat, bahkan Robby sebagai pelaku ikut serta. Korban dirawat intensif selama 4 hari dan akhirnya meninggal dunia.
“Kasus ini terungkap Minggu, 9 Juli 2017 berkat hasil kerja keras Polres Minut dan Polsek Likupang, yang melakukan pemeriksaan, penyelidikan intensif, mendalami kasus, meneliti profil korban. Hingga diketahui korban pernah punya masalah dengan terdakwa. Penyidik mengembangkan kasus ini dengan melibatkan Pemerintah desa dalam hal ini Hukum Tua Rinondoran Rikardino Tatuil, dan kemudian akhirnya istri tersangka mengaku bahwa suaminya Robby yang telah melakukan penganiayaan,” urai Pattiwael dengan wajah puas.
Sebagai tersangka, oleh Polisi (Robby) kenai pasal 338 tentang pembunuhan dengan ancaman 15 tahun, dengan subsider sebagai pengganti pasal 351 ayat 3 penganiayaan yang menyebabkan meninggal dunia ancaman 7 tahun.
“Jadi, diingatkan, ia dikenai Pasal 338 KUHP atau pasal penggnti 351 ayat 3 KUHP, bukan Pasal 340 tentang Pembunuhan Berencana.  Hal penting terkait penyelidik, saya pribadi memberikan apresiasi kepada pihak kepolisian Likupang Kapolsek Hendrik Rantung selaku penyidik. Kasus ini banyak menyita energi karena  hampir seminggu tidak bisa berbuat banyak, mengingat kejadian itu tidak ada saksi yang melihat langsung pembunuhan. Tapi berkat kerja keras akhirnya berhasil mengungkap kasus ini,” pungkas Pamen Polri bersuara merdu itu.(Red)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Berita Terkait

22.00.00

0 komentar:

Posting Komentar