Iklan

Rayakan Hari Anti Tambang Masyarakat Pulau Bangka Tanam 500 Mangrove di Pantai Kahuku

Posted by Unknown on Minggu, 28 Mei 2017


Airmadidi, Identitasnews.com - Setelah lima (5) tahun bergumul  menolak keras pertambangan, yang dilakukan oleh PT Micgro Metal Perdana (MMP), di Pulau Bangka tempat kediaman masyarakat dari tiga desa (Kahuku, Libas dan Lihunu (sekarang sudah 4 desa dengan bertambahnya Desa Libas), akhirnya hari ini Sabtu (27/5), menggelar syukuran bertajuk Hari Anti Tambang Nasional.
Sebuah tenda berukuran 24 meter dengan kursi kurnag lebih 250 buah, tak mampu menampung jumlah hadirin di lokasi perayaan tepatnya Desa Kahuku Jaga 2.
Hadirin disambut dengan lantunan lagu-lagu Sangihe yang dibawakan oleh group musik Keroncong Mama.
Disamping ratusan warga dari empat (4) desa setempat, hadir pula puluhan wisatawan mancanergara yang sengaja datang memenuhi undangan maupun memang spontan hadir untuk memenuhi agenda kegiatan menanam Mangrove di Desa Kahuku.
Dari sekian banyak hadirin, ada pula tim dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) dan KPA Tunas Hijau, serta 28 wartawan dari berbagai media.

Perayaan Hari Anti Tambang Masyarakat Pulau Bangka, dipimpin langsung oleh Kumtua Desa Kahuku, Immanuel M Tinungki yang didampingi Sekretaris Desa, Stenly Misa, diawali dengan ibadah bersama. Juru bicara masyarakat Pulau Bangka, Yul Takaliwang, mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan masyarakat yang sudah bahu-membahu mengundang tetamu untuk merayakan hari paling bersejarah bagi salah satu pulau terindah di Minut yang juga merupakan salah satu gugusan Pulau Bunaken ini.
"Gerakan Penghijauan Kembalikan Keindahan Pulau Bangka ini semoga dijadikan agenda tetap tahunan, sebab selain HUT Kemerdekaan RI, hari ini juga adalah HUT Kemerdekaan masyarakat Pulau angka dari intimidasi berbagai pihak demi menjadikan pulau tercinta ini sebagai Tambang Bijih Besi," katanya.
Pada penyampaian Hukumtua Desa Kahuku Immanuel M Tinungki mengingatkan bahwa masa-masa melawan dan menolak pertambangan di Pulau Bangka, sudah habis. "Yang ada kini adalah mempertahankan keindhan pulau tercinta ini, agar sampai akhir masa, tidak lagi ada pihak yang berupaya merusaknya dengan pertambnagan," beber salah satu pejuang penolak PT MMP di Pulau Bangka itu.
Lanjut Tinungki, disamping mengajak masyarakat untuk menghijaukan Pesisir Pulau Bangka dengan aneka tanaman yang ada, Tinungki juga mengklaim yang mana, sudah keluar Surat Keputusan Menteri Energi Dan Sumber Daya Minerl, tentang status PT MMP untuk penambangan di Pulau Bangka.
"SK Menteri ESDM Nomor 3109 K/30/MEM/2014 tanggal 17 Juli 2014 tentang dicabutnya  ijin pertambangan dan operasi produksi kepada PT Micgro Metal Perdana, sudah keluar, jadi, walaupun Hari Anti Tambang jatuh pada hari Senin 29 Mei 2017, tpi mengingat hari Senin adalah hari yang sibuk, maka kami sepakat melakukan ser3emoni ini pada hari Sabu 27 Mei (hari ini)," tukas Tinungki.
Lanjut dia, seperti amanah Presiden RI bahwa kita membangun kekuatan negara diawali dari pembangunan desa, maka pada hari ini di desa Kahuku, Kumtua mengajak semua masyarakat satu hati menanam bibit mangrove dipesisir pantai.
"Mari kita hijaukan Pulau Bangka tercinta ini, agar dikemudian hari, anak-cucu kita akan mendoakan kita-kita yang telah mewriskan kepada mereka kekayaan alam baik dari laut, sampai ke daratan. Tuhan Memberkati torang samua," tutup Hukumtua Desa Kahuku Immanuel M Tinungki.
 Selesai ibadah dan beberapa penyampaian, ratusan hadirin berbondong-bondong menuju bibir pantai, sembari menanam ratusan bibit mangrove.

Direktur Jaringan Advokasi Tambang Republik Indonesia (Jatam RI) mengaku sangat terharu melihat kegigihan masyarakat Pulau Bangka yang begitu berani melawan menolak pertambangan diwilayah mereka.
"Kami tahu persis, lawan masyarakat waktu itu adalah pihak berduit, yang mampu membayar siapa saja demi mengamankan upaya mereka, tapi warga mampu melawan, itulah yang membuat kami dari Jatam RI terpanggil untuk memperjuangkan hak anda.Untuk sukses yang telah diraih ini, maka kami mengajak masyarakat Pulau Bangka untuk menolak keras segala jenis pertambangan. Kami bangga masyarakat Desa Kahuku, Ehe, Lihunu," ungkapnya.

Puluhan wisatawan mancanegara dan Laskar Alam (SMPN 3 Likupang), berbaur dengan ratusan massa, menanami tepian Pantai Desa Kahuku sepanjang satu kilometer. "Biarlah kegiatan ini berlangsung setiap saat, dan diseluruh NKRI ini, agar negara kita menjadi salah sartu paru-paru dunia menangkis keganasan alam yang kian hari kian meningkat ini," harap Iin aktivis Tunas Hijau.(John)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Berita Terkait

16.34.00

0 komentar:

Posting Komentar