Iklan

Lokasi Galian C di Police - Line Polda Sulut, PT Dharmabhakti Ekapersada Pertanyakan Prosedur

Posted by Unknown on Selasa, 25 April 2017


Airmadidi, Identitasnews.com - Sejumlah pekerja pemecah batu di lokasi Galian C milik PT Dharmabakti Ekapersada di desa Tumalungtung terhenyak dan diam seribu bahasa ketika aktivitas mereka mendadak dihentikan oleh beberapa aparat Polda Sulut yang menggunakan sebuah mobil Baracuda saat turun langsung ke lokasi Selasa (25/4).
" Mereka langsung mempolice line alat-alat, mengambil kunci kontak dan meninggalkan surat untuk bos kami, kata salah seorang buruh harian yang bekerja sebagai pemecah batu di lokasi itu.
Dari keterangan sejumlah saksi mata, siang itu aparat Polda Sulut mendadak mendatangi lokasi galian C di area Perumahan Agape Tumaluntung Kecamatan Kauditan. empat polisi berpakaian preman itu mengaku dari Polda Sulut.
"Mereka langsung menyuruh kami berhenti bekerja, kunci kontak 3 excavator diambil, kemudian memotret lokasi dan pergi sambil bilang, agar Bos kami secepatnya menghadap di Polda," seru Benot W salah satu buruh.

Pimpinan PT Dharmabakti Ekapersada Oddy Luntungan melalui Pengelolah Perumahan Agape, Herman Luntungan mengatakan, sangat menyesalkan sikap aparat dalam kunjungannya. "Kami punya kantor perusahaan, kenapa hanya lewat dan masuk ke area pekerjaan. Kehadiran aparat Polda Sulut ini, arogan dan sangat  tidak beralasan, sebab saat membangunan Perumahan Agape ini kami memiliki ijin dari Pemerintah dalam rangka menindaklanjuti program Presiden Jokowi untuk membangun satu juta unit rumah murah  milik rakyat," ujar Luntungan.

Menurut Luntungan untuk pembangunan  Perumahan Agape ini ada lokasi penggalian untuk meratakan area perumahan. Oleh Pemkab Minut, itu merupakan Galian C. Dalam mengelolah perumahan, untuk membangun rumah kita mengambil material dari pembersihan lokasi tersebut.
"Selebihnya memang kalau ada warga yang mau beli batu, kami kasih sebagai hitung-hitung buat membeli bahan bakar untuk alat-alat yang ada. Saat kami datangi Dinas Pertambangan Provinsi Sulut, mereka bilang mereka tidak bisa keluarkan ijin diatas ijin, tapi kami boleh melapor ke Pemkab Minut saja sebagai Galian C yang beroperasi dan pajaknya masuk ke kas daerah," imbuhnya.

Luntungan juga mengatakan, untuk pembangunan perumahan agape ini sudah di pesan 100 unit dari para keluarga  Pendeta, Syamas dan tokoh-tokoh agama lainnya. "Sebagai masyarakat yang taat hukum, kami siap mengikuti aturan, selama itu memang mengacu dari prosedur yang ada. Kami sudah mengikuti semua aturan dan prosedur yang disarankan Pemprov maupun Pemkab, lalu kenapa harus datang dengan cara begini," timpal dia.
Sepeninggal ke-empat anggora Polda Sulut itu, Herman Luntungan menngaku sangat kecewa dan menilai Polda Sulut telah berbuat melampaui tupoksi. "Polisi kan penegak hukum, bukan pembuat aturan dan hukum?" pungkasnya.(John)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Berita Terkait

15.00.00

0 komentar:

Posting Komentar