Iklan

WARGA KUWIL-KALEOSAN DAN SAMPIRI IBARAT SUDAH JATUH TERTIMPA TANGGA PULA

Posted by Unknown on Senin, 20 Februari 2017

“Semoga pemerintah tidak lagi tutup mata, dan tidak hanya menjadikan kami sebagai lumbung suara saja”

Airmadidi, Identitasnews.com – Kemungkinan pemerintah berangan-ngan ‘meningkatkan kesejahteraan rakyat’, itu bisa saja. Pasalnya dihampir seluruh pelosok wilayah Kabupaten Minahasa Utara, geliat pembangunan dan peningkatan kehidupan rakyat, begitu namak jelas dan kian terasa karena realisasi aneka proyek pembangunan terus bergulir.
Baik proyek dari dana APBD, maupun dari dana APBN, semua yang direncanakan pemerintah, memang patut diberi apresiasi, mengingat apa yang dirindukan rakyat, ternyata sudah berbukti.
Para wakil rakyat di DPRD tidak henti-hentinya mengangkat aspirasi rakyat di masing-masing dapil, agar semua kebutuhan rakyat dapat terpenuhi, pembangunan-pun di genjot sesuai nomenklatur yang ada.
Nmun, ibarat dua sisi mata uang, apabila di kecamatan lain masyarakat boleh berdecak kagum dengan upaya pemerintah dan wakil rakyat di daerah pemilihan (dapilnya), kebalikannya ternyata ada juga.
Sebut saja Desa Sampiri Kecamatan Airmadidi, dan Desa Kuwil dan Kaleosan di Kecamatan Kalawat. Kalau di kecamatan lain kian mengalami kemajuan, sebaliknya di tiga desa dengan 2 kecamatan berbeda itu, malah seolah mengalami ‘kemunduran’.
“Sejak bencana alam 15 Januari 2014 silam, sampai hari ini, kami tidak nyaman lagi, karena jalan penghubung antar desa kami, sudah rusak parah,” keluh Yan Sambow warga Desa Kaleosan yang merupakan desa paling tengah di antara Kecamatan Airmadidi dan Kecamatan Kalawat.
Sejak bencana alam 15 Januari 2015 melanda, Jembatan Kuwil yang menghubungkan Desa Kawangkoan dan Desa Kuwil-Kaleosan-Sampiri, telah putus. Tak mau lama-lama kesulitan dengan jarak tempuh yang panjang, Kumtua Kuwil Hengkie Runtuwene pun mengambil langkah persuasif dengan menggalang dana dan swadaya masyarakat, mebangun kembali jembatan darurat, sehingga warga tidak lagi harus memutar lewat Desa Sampiri Kecamatan Airmadidi, untuk kemana saja.

“Jembatan kami banguin demi kelancaran transportasi warga, sambil menunggu upaya pemerintah,” kata Kumtua Desa Kuwil Hengkie Runtuwene beberapa waktu silam.
Sangat disayangkan, seiring waktu berlalu, janji pemerintah untuk membuat jembatan baru dan perbaikan jalan di 3 desa itu, tidak pernah terealisasi sampai tahun 2017 ini. Akibatnya, warga 3 desa yang memiliki kendaraan truk atau sejenisnya, terpaksa harus memarkir kendaraan diluar jembatan, atau memutar lewat Airmadidi, ke Desa Sawangan, masuk Desa Sampiri, barulah bisa sampai ke Desa Kaleosan atau Desa Kuwil.
Sudah jatuh, ketimpa tangga pula… Inilah nasib warga 3 desa di Kecamatan Airmadidi dan Kecamatan Kalawat tersebut. Jembatan darurat tak kunjung diganti, jalan Desa Kawangkoan ke Desa Sampiri dengan panjang kurang lebih 10 kilometer, sudah rusak disana-sini.
Jalan yang sempit denan lebar hanya 3-4 meter ini kian sempit karena di sebagian besar bahu jalan sudah berlubang, longsor, ditumbuhi rumput, bahkan ditimpa pohon besar yang tumbang beberapa tahun terakhir ini.
“Truk tidak boleh lewat Jembatan Kuwil, karena jembatan itu akan cepat rusak. Kami terpaksa harus memutar lewat Sampiri, padahal selain jauh, jalan sudah pada rusak, dan kalau malam hari sangat gelap, sehingga berisiko bagi pengguna jalan,” kata Refly Bayak warga Desa Kuwil.
Tahun 2017 ini, Desa Kawangkoan mendapat proyek pembangunan Waduk berjangka panjang. Sementara itu, cuaca buruk sedang melanda Provinsi Sulawesi Utara. Tanpa melalui proses analisa dengan kajian mendalam, serta kurangnya kordinasi antara pihak pelaksana proyek dan pemerintah terkait, akhirnya, warga 3 desa yang sudah sengsara karena hampir terisolir oleh jalan dan jembatan tak kunjung diperbaiki, kini kian mengenaskan.
Minggu (19/2), hujan deras melanda Kabupaten Minahasa Utara dan sebagian besar Provinsi Sulawesi Utara. Dan, 3 desa apes ini kembali dirundung kesedihan mendalam, ketika mendapati jalan yang menghubungkan Desa Kawangkoan ke Desa Kuwil, yang berlumpur dan berlubang disana-sini karena kendaraan proyek lalu-lalang.
Volume air hujan yang besar menyeret material lumpur dan bebatuan, tumpah-ruah ke jalan tunggal yang menanjak dan rumit, sehingga jalan menjadi licin dan berpotensi mengancam keselamatan pengguna jalan.
Bukan itu saja, punggung jalan bertikungan tajam, disisi kiri telah menganga jurang dalam, sementara rambu pengamanan jalan, sejak proyek berjalan, sampai hari ini, tidak dibuat.
Disamping itu, Jembatan Kuwil yang dibuat dengan jerih payah gotong-royong warga dari Desa Kuwil dan Kaleosan, terancam hancur, karena puing dari jembatan yang lama, sudah miring mengancam keberadaan jembatan darurat itu.

“Jalan sudah semakin rusak dan gelap tanpoa ada penerangan lampu. Tidak lama lagi jembatan kami putus ditabrak puing jembatan lama. Semoga pemerintah tidak lagi tutup mata, dan tidak hanya menjadikan kami sebagai lumbung suara saja,” tandas Refly Bayak mengkritisi.(John)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Berita Terkait

10.55.00

0 komentar:

Posting Komentar