Iklan

WARUGA KAWANGKOAN DI LECEHKAN BALAI SUNGAI DAN 2 PERUSAHAAN LUAR, RONDONUWU PERTANYAKAN PERAN DISBUDPAR MINUT

Posted by jhon simbuang on Selasa, 01 November 2016

Stendy:” Ini sangat disayangkan. Kami saja Dapil Kalawat-Airmadidi, tidak pernah dilibatkan, padahal proyek ini adalah salah satu program unggulan Provinsi dan Kabupaten untuk menopang masa depan masyarakat Sulut nanti "


Airmadidi, Identitasnews.com – Diusiknya posisi puluhan Waruga (Makam Leluhur) milik nenek moyang Suku Tounsea (Minahasa Utara) yang merupakan Tumani (turunan) Suku tertua penghuni Bumi MALESUNG alias Minahasa Raya (Sulawesi Utara) oleh pihak Balai Sungai melalui 2 perusahaan raksasa dari luar Sulawesi Utara, menjadi pembicaraan hangat dan berita panas di banyk media.
Pasalnya, bagi Suku Minahasa penghuni asli Provinsi Sulawesi Utara, Leluhur penghuni WARUGA merupakan orang-orang bijaksana dan dekat dengan OPO EMPUNG. Makanya sakralisasi Warug, masih sangat di sucikan.
Mengingat hal itu, beberapa waktu lalu dalam jumpa PERS bersama Balai Sungai, 2 perwakilan PT WIDYA KARYA dan PT NINDYA KARYA, Bupati Vonnie Aneke Panambunan didampingi Wanny Unsulangi, Danprov LSM Adat Brigade Manguni Indonesia (BMI), mengingatkan agar pihak terkait pekerjaan proyek Waduk Kawangkoan-Kuwil agar tidak merugikan masyarakat, baik dari segi ganti rugi pembebasan lahan, maupun terhadap makam-makam bahkan Waruga milik leluhur masyarakat Minut.
"Kita bukan bicara berhala atau menyembah roh-roh yang ada, tapi ini sudah menjadi adat-istiadat dan tradisi Suku Tonsea, makanya saya minta Balai Sungai dan pihak ke-tiga, harus mengikuti apa yang diminta para tetua adat dalam merelokasi Waruga-waruga itu melalui upacara adat," pinta VAP.

Di hadapan seluruh Wartawan FORJUBIR, Kabalai Sungai Djidon Watania berjanji, akan melakukan hal itu. Bahkan para wakil dari PT WIDYA KARYA dan PT NINDYA KARYA, turut juga menyetujui himbauan Bupati Minut.
Seiring waktu berjalan, entah sepengetahuan Gubernur Sulut maupun Bupati Minut, diduga kuat secara diam-diam PT WIDYA KARYA dan PT NINDYA KARYA telah memulai pekerjaan mereka di area bakal Waduk Kawangkoan-Kuwil.
Sesuai pantauan tim FORJUBIR, PJTM dan LSM WARANEY PUSER IN'TANA TOAR-LUMIMUUT DPB SULUT yang turun di lokasi, tim memergoki aktivitas dalam area tersebut. Salah satu personeel LSM WPITL, sempat menitikkan air mata ketika mendapati ada puluhan Waruga tampak sebagian besar lahan telah di garuk alat berat.
Sangat disayangkan, di lokasi yang ada dua tenda putih itu, pihak pelaksana memasang Anggota TNI untuk menjaga keamanan di area tersebut. Melihat tim berniat masuk lebih jauh ke area, oknum TNI tersebut dengan kasar meneriaki tim sambil melambaikan tangan menyuruh rombongan kembali.
"Kenapa yang dipakai menhjaga lokasi itu seorang Tentara, apa boleh aparat TNI jadi sekurity di lokai proyek umum seperti ini," tanya Jefran salah satu anggota tim yang kebetulan sempat adu mulut dengan tentara sandiri.

Menanggapi penelantaran situs budaya tertinggi Suku Minahasa Utara itu, sejumlah aktivis mulai berdatang an ke lokasi proyek. Sebut saja Stendy S Rondonuwu, Panglima Ormas Adat Laskar Manguni Indonesia (LMI). Ia sangat menyesalkan kejadian tersebut, dan itu tak bisa dibiarkan begitu saja.
"Ini sudah berbau penistaan budaya leluhur kami. Tak boleh dibiarkan ini sudah pelecehan bagi Tou Minahasa Raya. Secara pribadi saya sarankan pihak Balai Sungai kontraktor pelaksana dan Disbudpar Minut sudah meyikapi masalah ini, "tukas Stendy Rondonuwu.
Demi Wajah Tou Minahasa, lanjut Stendy yang juga Anggota DPRD Minut, sebelum ada kepastian tentang relokasi nya kemana, pekerjaan disitu sebaiknya dihentikan.
”Ini sangat disayangkan. Kami saja Dapil Kalawat-Airmadidi, tidak pernah dilibatkan, padahal proyek ini adalah salah satu program unggulan Provinsi dan Kabupaten untuk menopang masa depan masyarakat Sulut nanti,” imbuh Ketua Komisi B itu.

Situs cagar budaya tertinggi Tanah Minahasa, kata Stendy, telah di usik tanpa mengenal rasa hormat. Ia menyarankan agar pihak Balai Sungai dan kontraktor PT Waskita/PT Nindiakarya supaya di pending dulu untuk pekerjaan di lokasi waruga dan secepatnya cari solusi.
“Jangan pandang enteng dengan masalah ini. Sudah ada Ormas Adat yang besar bersiap memboikot proyek ini, hanya karena tidak tahu sopan santun menjarah harga diri Suku Minahasa khususnya Tonsea ini. Dimana fungsi Dinas Pariwisata Minut, jangan hanya tampil dengan modernisasi, sementara budaya tertinggi yang hanya satu-satunya di miliki Suku Tonsea seperti Waruga ini, justeru di acuhkan,” tandas Rondonuwu.
Mengingat nilai historis daripada waruga-waruga Desa Kawangkoan yang terkapar tanpa kepastian akan di relokasi kemana tanpa melalui prosesi secara adat, Rondonuwu mengingatkan UU no 11 tahun 2010 pasal 96 huruf m.
“Pemerintah dapat memindahkan atau menyimpan cagar budaya untuk kepentingan pengamanan tentunya dengan memperhatikan kearifan local agar tidak berbenturan dengan proyek pemerintah untuk kepentingan masyarakat banyak. Sekali lagi, semua program Gubernur dan Bupati, sampai kapanpun, tetap kami dukung, tapi terkait nasib Waruga-waruga ini, kami minta segera disikapi serius,” pungkas putera Maumbi itu.(John)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Berita Terkait

03.14.00

0 komentar:

Posting Komentar