HUT SHS
Headlines News :
Home » » Rinto Ingatkan Pemerintah, Relokasi Waruga Bakal Datangkan Bencana Besar

Rinto Ingatkan Pemerintah, Relokasi Waruga Bakal Datangkan Bencana Besar

Written By jhon simbuang on Minggu, 13 November 2016 | 16.30.00

STE-VO: “Kenapa harus di relokasi kalau ternyata waruga-waruga itu tidak akan dibenamkan”

Airmadidi, Identitasnews.com - Kebijakan Pemerintah membangun Waduk Kawangkoan-Kuwil di Desa Kawangkoan Kecamatan Kalawat Minut, membuat semua kalangan merasa bangga akan terobosan yang sudah dibuat secara sinkron antara Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan Bupati Minut, Vonnie Aneke Panambunan.

Sayangnya, ada satu hal mengganjal, sehingga kebijakan dua kepala daerah itu menuai perbandingan dari sejumlah aktivis dan tokoh  pemerhati adat, budaya dan tradisi Suku Minahasa, ketika pemerintah telah membiarkan Waruga (makam para leluhur Suku Minahasa red-) di obok-obok pihak perusahaan pelaksana pembangunan Waduk tersebut.
Ratusan Waruga yang di klaim Disbudpar Minut hanya sebanyak 40-an di lokasi itu, terancam tidak alami lagi, ketika PT Nindia Karya dengan perkasa telah melakukan pekerjaan tanpa menggelar sosialisasi dan pemberitaan, sehingga diduga kuat, banyak makam para leluhur (Waruga) telah tersentuh pekerjaan secara tidak hormat.
Dalam rapat bersama Disbudpar, Badan Arkeolog, Balai Sungai dan beberapa instansi terkait lainnya, Pemerintah berjanji akan melakukan relokasi alias pemindahan waruga-waruga tersebut. Hal itu, memang sedap didengar, tapi bagi para tokoh pemerhati adat,budaya dan tradis Suku Minahasa, wacana relokasi itu, tidak semudah membalik telapak tangan.

Menurut Rinto Taroreh tokoh spiritual Tonaas Sprirtual Waruga, harusnya sebelum proyek dikerjakan, pemerintah mesti menghadirkan Tonaas untuk membangun komunikasi dengan para leluhur.
“Itu harus digelar upacara adat, BA ATOR agar para Tonaas bisa memohon kepada para leluhur untuk pemindahan waruga yang merupakan Tempat Peristirahatan Terakhir mereka. Mereka marah, mereka tidak sudi lokasi Negeri yang telah mereka atur untuk peristirahatan terakhir, di reokasi. Saya coba membujuk, tapi mereka menolak dan mereka bilang, kalau Waruga-waruga itu dipindah, mereka akan melawan dan akan berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat Minut dan Manado. Kalau kalian tidak percaya, silahkan,” tandas Taroreh.


Ketua Umum (Ketum) LSM Waraney Puser In'Tana Toar Lumimuut, John  F S Pandeirot, melalui Sekjen Steven Obaja Voges SH. MH, sangat menyesalkan keputusan relokasi Waruga-waruga itu, dengan cara seolah setengah-setengah hati atau suam-suam kuku.
“Waruga adalah lambang kebesaran Tou Mina’Esa, dimana para leluhur menjelaskan bahwa sebelum manusia mengenal agama, aturan dan hukum, para leluhur Suku Minahasa sudah memegang keyakinan, hukum adat dan komitmen. Jadi, hormati dan hargailah itu, jangan hanya mengatakan akan merelokasi, tapi suam-suam kuku,” tukas dia.

Usaha pemerintah membangun Waduk Kawangkoan-Kuwil, lanjut Voges, didukung penuh oleh LSM Waraney Puser In’Tana Toar-Lumimuut, sebab itu adalah program jangka panjang yang bakal mensejahterakan masyarakat. Tapi, kebijakan membiarkan situs budaya (waruga) tidak diurus dengan adat sesuai tradisi, berarti pandang enteng.
"Kami ssangat mendukung program pemerintah membangun Minut, tapi kami  menyesali cara pemerintah memperlakukan cagar budaya peninggalan leluhur kita. Padahal para pemimpin selalu menempatkan diri sebagai manusia beradab dan menghormati sejarah dan selalu mengutamakan Adat Orang Timur, tetapi dalam perilaku sesungguhnya mereka gagal sejalan antara ucap dan tindakan, sembur Ste-Vo.

Selaku pemerhati Budaya dan Hukum Sulut, membenarkan hal itu. Cagar budaya, dimata Voges,  adalah suatu daerah yang kelestarian hidup masyarakat dan peri kehidupannya dilindungi oleh undang-undang dari bahaya kepunahan.
“Dalam UU no. 11 tahun 2010, Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan melalui proses penetapan. Mestinya mereka tahu, mestinya mereka paham, mari kita bersatu hati menyelamatkan peninggalan leluhur kita". kata pria tampan yang akrab disapa Ste-Vo itu (Minggu 13/11).
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan, timpal Stevo, pemerintah dan perusahaan terkait harus segera mengajak para tokoh adat duduk bersama, bahas kepanitiaan relokasi, atau duduk bersama, mengkasi pemindahan Waruga, apa perlu atau tidak.
“Bahas, apa perlu dipindah atau tidak perlu, agar ampak buruk tidak menimpa masyarakat banyak. Dan satu hal yang harus disikapi serius, untuk menjaga situs-situs bersejarah itu, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota, harus segera membuat PERDA untuk melindugi semua situs budaya yang ada di Tanbah Toar – Lumimuut ini,” pungkas Ste-Vo yang juga menjabat Panglima Besar (Pangbes) LSM Waraney Puser In’Tana Toar-Lumimuut itu.(RED)
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Redaksi | Layanan Iklan | Hubungi Kami
Copyright © 2013 - All Rights Reserved
Hosting by Manado Web Hosting Publikasi by Identitas Team
Kreasi by MWD