Iklan

NEGOSIASI RELOKASI WARUGA KAWANGKOAN, DITOLAK ARWAH LELUHUR.. BENCANA MENGICAR!

Posted by jhon simbuang on Senin, 07 November 2016


Henly: "Apapun jalan dan alasan, para leluhur tidak mau di relokasi. Mereka akan melawan demi harga diri Tanah TONSEA"

Manado, Identitasnews.com - Aksi demo belasan berpakaian Adat Kabasaran pada Minggu 06/11-2016 lalu, di Kota Manado, berlangsung aman dan lancar, sebab para pendemo berseragam adat ini lebih cenderung berdemo dengan style teatrikal.


Menurut pemimpin demo Rinto Taroreh, Tonaas Adat Budaya Minahasa asal Desa Warembungan, demo ini bukan bertujuan melawan upaya Gubernur Sulut dan Bupati Minut dalam membangun daerah. Tapi hal pengambilan keputusan relokasi Waruga-waruga Kawangkoan, menjadi musababnya.
Tujuan utama demo dibawah pimpinan Tonaas Rinto Taroreh, adalah upaya untuk menyelamatkan waruga yang dibiarkan oleh pemerintah tanpa melestarikan adat dan budaya Suku Minahasa.

"Ini kampanye supaya masyarakat turut serta pelestarian budaya, masalah kerusakan situs budaya, penyerobotan tanah adat, dalam aksi ini paling penting adalah masalah waruga," ujar Rinto Minggu (6/11).


Sebagai pencinta sejarah, adat dan budaya Minahasa yang mulai dikikis oleh budaya asing dan modernisasi, Rinto dan beberapa rekannya telah turun langsung ke lokasi Waruga Kawangkoan.
"Percaya atau tidak, saya sudah berkomunikasi dengan para leluhur, say coba beri pemahaman bahwa Waruga kediaman meraka akan di relokasi, untuk dipercantik, tapi mereka tersinggung dan sangat tidak setuju," beber Rinto kepada awak media.
Demo damai yang digelar di Mantos Tiga dengan memegang selebaran bertuliskan Selamatkan Situs Budaya, lanjut Rinto, bertujuan juga untuk menyelamatkan nasib masyarakat sekitar dan puluhan ribu warga Kota Manado dari amarah para leluhur pemilik Waruga-waruga itu.


"Sekali lagi saya tegaskan, saya tidak ada kepentingan dengan proyek raksasa di Kaleosan itu. Tapi sebagai orang Minahasa, saya merasa terpanggil dan harus memperingatkan orang Minut dan Kota Manado, bahwa bahaya mengancam jika Waruga-waruga itu dipindahkan,"ungkap Taroreh sedih.
Perlu diketahui, dua hari sebelum demo, Tonaas Rinto Taroreh dan rekan-rekannya para ahli komunikasi dengan para leluhur, telah menyambangi Waruga di Desa Kawangkoan Kalawat.


Dalam rapat pembentukan Panitia Relokasi Waruga Kawangkoan, Rinto telah mengingatkan, agar jangan merelokasi Waruga-waruga tersebut.
"Para leluhur marah, tidak bersedia di relokasi. Mau percaya, mau tidak, saya harus menyampaikan, agar dikemudian hari, apabila relokasi tetap dilakukan juga dan terjadi mala petaka, kita bisa kejar pertanggungjawaban dari pemerintah terkait dan perusahaan-perusahaan pelaksana," tandas Rinto.


Hal senada, dibenarkan Henly Mengko, salah satu rekan Rinto Taroreh. Ia mengaku, saat berkomunikasi dengan arwah para leluhur, Rinto Taroreh dimarahi leluhur.
"Apapun jalan dan alasan, para leluhur tidak mau di relokasi. Mereka akan melawan demi harga diri Tanah TONSEA. Tapi kami tahu, pasti pemerintah tidak akan percaya, dan akan berusaha dengan segala cara, untuk menlabjutkan proyek Waduk Kawangkoan itu. Yang penting, selama masih bisa menegur, kami dudah berupaya menegur pemerintah untuk tidak merelokasi Waruga-waruga itu," harapnya.(John)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Berita Terkait

11.25.00

0 komentar:

Posting Komentar