HUT SHS
Headlines News :
Home » » LSM WPITL Bitung: "Kawasan Hutan Tangkoko Perlu Diperhatikan"

LSM WPITL Bitung: "Kawasan Hutan Tangkoko Perlu Diperhatikan"

Written By jhon simbuang on Rabu, 26 Oktober 2016 | 22.30.00

Watimena: "Kami sudah mengambil langkah-langkah pasca kebakaran hutan lalu, namun ada kawasan hutan yang bukan kewenangan kami, seperti kawasan cagar alam itu adalah kewenengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)"

Bitung, Identitasnews.com - Bencana kebakaran hutan Tangkoko yang membuat ribuan hektar ludes pada bulan Oktober 2015 silam, menjadi perhatian khusus Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Waraney Puser In,tana Tanah Toar Lumimuut (WPITL) Bitung.

LSM adat ini mendesak Pemerintahan Kota Bitung bersama instansi terkait, segera mengambil langkah persuasif untuk mengatasi lahan dan hutan yang merugikan karena banyak floura dan fauna yang binasa pada waktu kejadian itu.


Peristiwa kebakaran hutan ini, pada umumnya terjadi pada musim kemarau panjang dan untuk tahun 2015 Provinsi Sulawesi Utara mengalami bencana kebakaran hutan yang sangat memprihatinkan. Kebakaran hutan yang hampir tiap tahun terjadi ini merupakan salah satu ancaman terhadap kelestarian hutan di Indonesia. Kebakaran ini mengakibatkan berbagai kerusakan yang sangat merugikan.

"Kebakaran hebat salah satunya hutan lindung Tangkoko (Gunung Tangkoko) dan perlu ada penyelesaian untuk melakukan penghijauan kembali," ucap Sekretaris WPIT Kota Bitung, Cheris Luntungan,SE yang juga salah satu Tokoh pemerhati Lingkungan di kota Bitung, Rabu (26/10).

Lanjutnya, Hutan lindung Tangkoko yang terletak di Kota Bitung menyimpan beberapa spesies langka dan dilindungi.
"Banyak spesies langkah di kawasan hutan tersebut, yakni tarsius, kuskus (ailurops ursinus), kuskus kerdil (strigocuscus celebensis), anoa, dan musang Sulawesi (macrogalidia musschenbroekii). Untuk itu perlu ada perhatian khusus untuk melakukan penghijauan karena hutan adalah sumber kehidupan kita," Lanjut Cheris sapaan akrabnya.

Sementara itu, sanitasi di kompleks Tahona, kelurahan Batu Putih atas, kecamatan Ranowulu juga menjadi persoalan. Persoalan air bersih menghadapi sejumlah tantangan seperti pesatnya pertumbuhan populasi, ditambah pola perilaku manusia yang merusak lingkungan.

"Nila menilai dari hasil amatan kami, buruknya sanitasi akan menimbulkan permasalahan kesehatan mendasar yang pada akhirnya akan mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Karena sanitasi di lokasi tersebut, mata airnya berasal dari gunung yang bisa saja dikotori oleh oknum-oknum yang hendak melewati jalur sumber air di pegunungan," jelas Cheris seraya mengharapkan Pemkot Bitung, khususnya instansi terkait diminta perhatikan dan membangun infrastruktur dalam mewujudkan ketersediaan air bersih tepat guna untuk memecahkan persoalan air bersih dan sanitasi.

Terpisah , Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Ketahanan Pangan, Ir Alexander Watimena, Msi mengatakan bahwa pihaknya sudah mengambil langkah-langkah pasca kebakaran tersebut, namun ada beberapa daerah yang bukan kewenangannya.
"Kami sudah mengambil langkah-langkah pasca kebakaran hutan lalu, namun ada kawasan hutan yang bukan kewenangan kami, seperti kawasan cagar alam itu adalah kewenengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)," ungkap Watimena seraya menyebutkan bahwa dalam waktu dekat ini pihaknya sudah membuat program penanaman nasional di kawasan hutan Tangkoko.

Menanggapi perkataan dari Watimena, LSM WPIT Kota Bitung, melalui Sekretaris Ceris Luntungan bersedia mendukung dan mengambil bagian pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan instansi terkait.
"Dengan adanya program-program pemerintah untuk pelestarian lingkungan, kami sangat mendukungnya dan pihak kami bersedia mengambil bagian dalam program-program Pemerintah dalam hal pelestarian lingkungan hidup," tutup Cheris.(Marcel Rorong)
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Redaksi | Layanan Iklan | Hubungi Kami
Copyright © 2013 - All Rights Reserved
Hosting by Manado Web Hosting Publikasi by Identitas Team
Kreasi by MWD