HUT SHS
Headlines News :
Home » » ‘LSM WPITL’ DESAK KEJARI BURU OTAK DARI SKANDAL OTT 2015 DPRD MINUT

‘LSM WPITL’ DESAK KEJARI BURU OTAK DARI SKANDAL OTT 2015 DPRD MINUT

Written By jhon simbuang on Senin, 03 Oktober 2016 | 11.37.00

Jefran: “Kami Hanya Mencari Keadilan Sesuai Hak Asasi Manusia. Dan Kami Tidak Ada Kepentingan Dalam Kasus Ini” 

Airmadidi, Identitasnews.com – Kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap PL Alias Paulus dan JD Alias Oce, dua (2) legislator DPRD Minut mendekam di Rumah Tahanan (Rutan) Malendeng akhir tahun 2015 silam, ternyata tidak habis dan menyimpan api ibarat kat pepatah, ‘Bagai api di dalam sekam’.
Sekitar 10 bulan (hampir satu tahun) PL dan JD bergabung dengan ratusan narapidana di Rutan Malendeng menunggui nasib mereka yang terkatung-katung merambat di Pengadilan Tipikor Manado.

Sangat disayangkan, semenjak ditahan, baik PL dan JD seolah-olah di campakkan begitu saja oleh rekan-rekannya di Komisi A maupun seluruh personel DPRD Minahasa Utara, tanpa ada upaya bantuan dan aopa saja sikap yang diharapkan keduanya.
“Bantuan apa, jangan kan membantu, menjenguk atau minimal menitip salam saja tidak pernah,” tutur sumber resmi dari PL dan JD kepada media ini yang meminta namanya di rahasiakan.
Terpisah, AL alias Nita, Isteri dari PL saat ditemui sejumlah wartawan, nampak begitu sedih. Ia mengaku sudah pasrah dengan nasib yang terjadi pada sang suami tercinta. “Mau bagaimana lagi, kami buta hokum, tak ada kekuatan apa-apa, sementara tidak ada pihak Dewan yang perduli dengan nasib mereka berdua,” tutur ibu ber-anak 2 berusaha tegar.
Dalam kepasrahannya, AL tidak lagi berharap apa-apa dalam masalah ini. Hanya saja dirinya sempat bertanya, apakah kedua anggota dewan ini diproses hokum memang sudah adil.
“Kami hanya berharap ada keadilan dalam kasus ini, sebab mereka berdua hanya memegang uang dengan jumlah kecil, karena keduanya hanya diperintahkan oleh atasan mereka. Masak mereka dip roses hokum, sedangkan yang lainnya tidak. Dimana keadilan itu,” tanya Nita.
Nasib PL dan JD sungguh mengenaskan, sementara pada beberapa tahap proses persidangan berjalan, keduanya sempat berkicau dalam Fakta Persidangan, yang mana mereka merasa telah mendapat perlakuan hokum sangat tidak adil.
Melihat masalah tersebut, LSM WARANEY PUSER IN’TANA TOAR-LUMIMUUT (LSM WPI’TL) tergugah. Dalam agenda rapat tertutup Dewan Pengurus Besar (DPB) di Markas Besar (Mabes) beberapa hari lalu, lembaga ormas adat Minahasa itu menyimpulkan akan mencari letak keadilan untuk masalah tersebut.
“Kasihan mereka berdua, kalaupun memang harus di vonis dengan pasal apa saja, kami tidak akan menghalangi proses hokum yang berlaku. Tapi kami akan membedah kasus ini secara intensif, demi mengungkap keadilan terhadap PL dan JD,” seru Ketua Umum (Ketum) LSM WPI’TL John F S Pandeirot, melalui Kepala Departemen Khusus Tindak Pidana Korupsi (Kadepsus Tipikor) Jefran Herrodes de’ Jong Senin (3/10).
Ditanya apa ketertarikan LSM WPI’TL ingin mem-follow up kasus ini, menurut de’Jong, semua lahir dari RASA KEMANUSIAAN, tanpa ada kepentingan apa-apa.
“Kami hanya mencari keadilan sesuai hak asasi manusia. Dan kami tidak ada kepentingan dalam kasus ini. Berdasarkan fakta persidangan dan nyanyian PL dan JD, kami yakin masih ada letak keadilan yang belum diungkap dalam kasus ini,” tukas mantan Koordinator Investigasi Sulut Corruption Watch (SCW) itu.
Lebih lanjut dikatakan D’yong, menilik permasalahan dalam kasus OTT ini, dua oknum anggota dewan ini sengaja di jebak, mengingat didefinisi kronologis, unsur hukum mempergunakan jabatan dari, berarti memperkaya diri sendiri serta orang lain, berarti Kolusi Korupsi Nepotisme (KKN).
“Nah berarti kalau korupsi ada penerima, serta ada juga pemberi, dalam rumus korupsi, pemberi serta penerima hukuman harus sama dong. Kenapa hanya penerima yang dihukum. Apakah uang yang diterima oknum anggota dewan ini jatuhnya dari langit. Agar perseden buruk tidak di-cap kepada Kejaksaan, sebaiknya Kejari Minut menuntaskan kasus ini, dan seret para oknum terkait seperti Komisi A DPRD Minut, sesuai pengakuan PL dan JD di fakta persidangan,” pinta Jefran.
Ia juga menilai, Kasus OTT ini merupakan akar dari GRATIFIKASI. “Kalau ini gartifikasi, berarti ada pemberi, ada pula penerima. PL dan JD adalah ‘penerima’, dan kalau demikian, dimana ‘pemberi-nya’. Dan satu lagi, sesuai nyanyian keduanya, mereka hanya suruhan Ketua Komisi A dan dititipkan uang oleh SKPD. Ini kan sudah jelas, ada mata rantai yang sengaja di putus demi menyelamatkan beberapa oknum, dengan menjadikan P dan JD sebagai tumbal gratifikasi. Ini harus dibongkar dan mereka yang terlibat harus dip roses hokum sesuai kadar keterlibatannya,” tandas de’Jong sembari menambahkan yang mana pihak LSM WPI’TL akan lakukan pergerkan massa untuk demo, jika keadilan tidak di tegakkan dalam skandal OTT ini.
“Ini murni gerakan solidaritas serta rasa kebersamaan sebagai makhluk ciptaan TUHAN. Dengan menuntut keadilan terhadap PL dan JD, berarti masyarakat umum tahu bahwa kami di LSM Waraney Puser In’tana Tora Lumimuut adalah organisasi masyarakat adat yang punya kepentingan membela keadilan di Tanah Malesung tercinta ini,” tutup aktivis yang akrab disapa Boets (baca; Buds red-).
Sementra itu, Kajari Minut Agus Sugianto Sirait kepada wartawan mengatakan, kasus itu sementara berjalan di pengadilan. "Kami juga sedang mempelajari fakta persidangan, biar nanti akan ada tindak lanut apakah kasusnya selesai sampai disini, atau bisa juga berkembang dan bertambah pula tersangkanya," ujar pejabat seragam cokelat yang saat ini sedang dalam keadaan berkabung atas meninggalnya ayah tercinta beberapa waktu lalu.(Red)
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Redaksi | Layanan Iklan | Hubungi Kami
Copyright © 2013 - All Rights Reserved
Hosting by Manado Web Hosting Publikasi by Identitas Team
Kreasi by MWD