HUT SHS
Headlines News :
Home » » Dewan Kesenian Minut Nilai,Rancngan Pakaian Adat Adat Minahasa Gubernur Dan Wagub Sulut, Mirip Pakaian Koki Chinese Food

Dewan Kesenian Minut Nilai,Rancngan Pakaian Adat Adat Minahasa Gubernur Dan Wagub Sulut, Mirip Pakaian Koki Chinese Food

Written By jhon simbuang on Minggu, 09 Oktober 2016 | 19.00.00

Waturandang: "Jangan karang-karang kwa, sebab yang mo pake ini pakaian adat adalah orang nomor 1 dan nomor 2 Sulut"

Airmadidi, Identitasnews.com - Jelang rencana Pengukuhan Adat kepada Gubernur Sulut, Olly Dondokambey SE dan Wakil Gubernur Steven Kandouw, maka banyak pihak telah mengatur rencana untuk menyenangkan hati pasangan kepala daerah tingkat satu (provinsi) itu dengan aneka cara.
Kali ini, ada ide yang ditelurkan untuk membuat teroboan baru bagi pasangan gubernur dan wakil gubernur itu, yakni rancangan Busana Adat yang tertera dalam sebuah gambar, dimana pasangan dari Partai PDI-P itu
Melihat contoh tayangan gambar tersebut, maka pihak Dewan Kesenian Minut, dalam hal ini adalah Sekretaris Umum, Jean Waturandang, merasa kurang nyaman dengan contoh pakaian adat itu.
“Tidak mengurangi rasa hormat kami kepada Pak Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut, maka kami ingin mempertanyakan rancangan busana adat yang akan dikenakan seperti pada gambar ini,” tutur Waturandang Minggu (09/10).

Lanjut dia, jika memang ini dirancang sebagai pakaian adat Minahasa, rasanya ini kurang tepat. Pasalnya dari bentuk topi dan bentuk renda hiasan baju. “Setahu kami, karena di Minahasa Utara kami bersama-sama DISBUDPAR telah beberapa kali mengadakan Seminar tentang busana adat Minahasa. Harusnya bentuk topi juga hiasan baju semestinya memiliki filosofi, bukan hanya sekedar melihat keindahan atau hanya mengikuti keinginan sang perancang,” sembur wanita paruh baya yang juga artis TVRI yang dikenal dalam acara OBER itu.
Bentuk topi seperti ini, lanjut wanita yang akrab disapa Tante Mien itu, filosofinya apa,”So dapa lia tare sama deng koki chinesfood yang mo pake ini seragam adat model bagini. Kemudian itu dia pe hiasan baju, ada pake Bunga Matahari. Apa maknya dari itu, jangan karang-karang kwa,” timpal Jean Waturandang.
Ia juga menambahkan, yang mana ini memang hanyalah simbol adat saja, tapi si perancang harus ingat dampak dari pembuatan pakaian adat ini. “Yang mo pake ini seragam do orang nomor satu deng nomor dua. Beliau-beliau ini adalah milik segala unsur dan komunitas, jangan sampai jadi ajang cemooh saja,” urai Tante Mien.

Kalau memang gelar adat akan diberikan secara adat Minahasa, kata Waturandang lagi, seharusnya dipertimbangkan juga karya – karya busana adat yang sudah pernah dan dikenal oleh masyarakat, dengan mengakomodir segala aspek termasuk pesan adat yang tersirat dalam bentuk dan hiasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Jangan sembarangan dan akhirnya kebiasaan ini justeru akan turun temurun. Besok-besok pasti  akan ada lagi yang merancang model lain dan semua jadi kian tidak jelas,” tandas Waturandang.(John)
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Redaksi | Layanan Iklan | Hubungi Kami
Copyright © 2013 - All Rights Reserved
Hosting by Manado Web Hosting Publikasi by Identitas Team
Kreasi by MWD