Iklan

MENGETAHUI JURUSANNYA ILEGAL, RATUSAN MAHASISWA FARMASI UNIMA DEMO SAMBIL MENANGIS

Posted by jhon simbuang on Rabu, 14 September 2016


PIHAK UNIMA HARUS BERTANGGUNG JAWAB

Tondano, Identitasnews.com - Menyedihkan kisah yang terjadi pada para mahasiswa Farmasi FMIPA Unima saat menuangkan uneg-uneg mereka dalam gelar aksi demonstrasi damai di depan Kantor Pusat Unima, Selasa (13/9) kemarin,
Kalau biasanya para mahasiswa berdemo menjurus pada anarki, kebalikannya beberapa mahasiswa malah menangis menyampaikan aspirasi mereka karena tak bisa menyelesaikan kuliah akibat Prodi Farmasi Masih Ilegal.

Kepemimpinan Rektor Universitas Negeri Manado (Unima) Prof Dr Julyeta P A Runtuwene MS DEA ternyata mendawat warisan mirip PIL PAHIT sebab sepeninggal Rektor yang lama, ternyata UNIMA banyak masalah,
Tercatat, baru enam hari menjalankan tugas sebagai rektor, Runtuwene langsung ditantang untuk menyelamatkan studi sekitar 178 mahasiswa Farmasi FMIPA Unima.

Masa depan studi para mahasiswa tersebut memang sungguh menyedihkan,Sudah lima tahun kuliah, tapi tak bisa menyandang gelar Sarjana Farmasi karena rupanya Program Studi (prodi) Farmasi Unima tidak mengantongi izin Kemenristek Dikti alias ilegal.
Demi masa depan mereka, para mahasiswa farmasi menggelar unjuk rasa di depan Kantor Pusat Unima, Selasa (13/9) kemarin. Dengan menenteng spanduk dan karton tuntutan, mereka menyuarakan aspirasi menggunakan megaphone.
Suasana menjadi mengharukan ketika di hadapan rektor, mahasiswa menyampaikan keluhan mereka sambil menangis.
“Orangtua kami sudah banting tulang mencari uang untuk biaya kuliah kami,Di kebun naik kelapa Mempertaruhkan nyawa,di tengah laut masih berusaha menangkap ikan hingga malam untuk masa depan kami,Sudah banyak biaya kuliah dikeluarkan tapi kami tak bisa lulus karena prodi farmasi ternyata akan dihapus,” tuturYullin Lololuan mahasiswa asal Ternate dan Enaggelion Sangari dari Minahasa.
Mereka menegaskan, aksi demonstrasi dilandasi motivasi murni, tidak ada yang menunggangi. Orangtua mereka juga mendukung aksi ini bahkan menggelar unjuk rasa di Pemprov Sulut,Pihak rektorat dan Kemenristek Dikti sendiri sudah menelurkan solusi dengan memindahkan mereka ke Prodi Kimia.
Namun kebijakan itu mereka nilai bukan solusi bijaksana Karena dengan begitu, maka menjadi sebuah penipuan ketika Unima membuka prodi farmasi lima tahun lalu Apalagi prodi kimia sangat jauh dari kuliah keahlian mereka sehingga mahasiswa menolak pengarahan pemindahan itu.
“Bukankah ini bentuk penipuan? Kalau kami dipindahkan, bagaimana pertanggungjawaban kami di masyarakat dengan gelar akademik yang tidak pernah kami pelajari?Orangtua kami sudah mati-matian menguliahkan kami untuk sarjana farmasi,bukan kimia,” seru Rivaldi Lobot dan Rivaldo Mogot yang dipimpin Koordinator Aksi Jandris Bandari dan Isbun Payu.
Mahasiswa marah dengan keluarnya surat edaran dengan nomor 9271/UN41/PS/2016, Surat itu mengarahkan mahasiswa konsentrasi farmasi dan geothermal untuk pindah ke prodi ilmu kimia dan fisika.
“Kalau mahasiswa geothermal pindah ke fisika, itu masih masuk akal karena mata kuliahnya sama,tapi kuliah keahlian farmasi kami sangat jauh sekali dari jurusan kimia,ungkap para mahasiswa.
Untuk itu, mereka menuntut pimpinan kampus untuk segera mengurus izin pendirian prodi farmasi secepatnya,mengingat sudah lebih dari lima tahun mereka kuliah di farmasi.
“Jika tidak, kembalikan biaya yang kami keluarkan selama kuliah,Termasuk Unima harus bertanggung jawab dengan waktu kami yang terbuang percuma,” tuntut mereka.

Sementara itu, salah satu orangtua mahasiswa farmasi Ronly wulus meminta Unima cepat memastikan masa depan studi anaknya,Kalau tidak ada jalan keluar atau bila anaknya dipindahkan ke prodi kimia,maka ia akan membawa masalah ini ke ranah hukum.
“Saya adalah orangtua mahasiswa farmasi semester 11selama lima tahun kuliah, sudah banyak sekali biaya kuliah dikeluarkan. Bahkan baru-baru ini mahasiswa farmasi berangkat magang di Yogyakarta membawa nama prodi farmasi dengan biaya besar,makanya kalau tidak ada jalan keluar saya akan membawa ini ke ranah hukum,” ujar Wulus yang juga adalah Sekretaris ODC Minahasa.

Di sisi lain, Prof Runtuwene sendiri langsung menampung aspirasi mahasiswa dan akan mengkajinya,Apalagi karena berbagai kebijakan yang diambil sebelumnya,saat itu dirinya belum menjabat rektor.
Makanya, dia meminta agar diberikan waktu mengkaji masalah tersebut. “Kesempatan ini sebagai informasi awal bagi saya Beri saya waktu untuk mengkaji ini secara dalam,” ujar Runtuwene di depan para mahasiswa.
Runtuwene berjanji akan sesegera mungkin menyelesaikan permasalah tersebut. “Jadi saya akan mengkajinya dengan kepala prodi, dekan dan semua pihak terkait dan Hasil langkah selanjutnya akan kami sampaikan, Jadi beri kami waktu,Ada yang tanya sampai kapan?tentu sampai kajian ini selesai kami akan berusaha dalam waktu sesegera mungkin,” pungkas Runtuwene.(Haris)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Berita Terkait

08.00.00

0 komentar:

Posting Komentar