HUT SHS
Headlines News :
Home » » OH KOMAN… SOMO 2 TAON JADI POLITIKUS, AMPER STENGAH ANGGOTA DEWAN MINUT, BELUM PERNAH TERPAMPANG DI BERITA

OH KOMAN… SOMO 2 TAON JADI POLITIKUS, AMPER STENGAH ANGGOTA DEWAN MINUT, BELUM PERNAH TERPAMPANG DI BERITA

Written By jhon simbuang on Selasa, 09 Agustus 2016 | 09.00.00

KALAU BUPATI DAN WAKIL BUPATI SIANG MALAM BERSAMA WARTAWAN, SEBALIKNYA PARA ANGGOTA DEWAN BANYAK MALAH MENGHINDAR

Airmadidi, Identitasnews.com – Tanpa terasa, kiprah dan kinerja Dewan Kabupaten (Dekab) Minahasa Utara (Minut), nyaris mencapai dua (2) tahun. Sayangnya, banyak pemerhati politik dan pemerintahan menilai para Anggota Dewan Yang Terhormat ini banyak yang belum bekerja maksimal.

Eksistensi berupa kontribusi ke-30 personil Dekab dalam mengawal pembangunan daerah, masih tergolong lembek dan hanya menyambung peninggalan anggota dewan yang lama saja. Hal ini terlihat dalam setiap pembahasan-pembahasan yang dilakukan legislator baik internal dan eksternal bersama eksutif maupun masyarakat.
“Mari kita bertaruh, banyak sekali masyarakat Minut yang belum mengenal para Anggota Dewan Yang Terhormat di Dekab Minut ini. Bayangkan saja, di Biro Minut, ada kurang – lebih 35 media tergabung dari radia, televise, online dan Koran, tapi masih banyak politisi itu yang tidak pernah di beritakan. Ini kan tidak baik, mengingat mereka adalah wakil suara rakyat,” kata Koordinator Investigasi LI-TIPOKOR, Jefran De Joong Senin (8/8).

Sesuai pantauan awak media, hampir separuh Anggota Dewan Minut memilih menjauh dari kuli tinta (wartawan) dengan masing-masing anggapan seperti mencari aman, dalam beberapa hal.
“Mereka terlihat jarang bicara memberikan gagasan dan ide dalam satu persoalan kedaerahan dan kerakyatan. Kalaupun ada, hanya legislatir-legislator tertentu saja yang memang vokal berbicara, sementara lainnya terlihat diam, hanya kata ia dan sepakat atau mengangguk saja. Padahal waktu kampanye, pita suara nyaris putus berkoar-koar menjual janji kepada masyarakat, kenapa setelah jadi legislator, justeru jadi Wowo (wowo=Bisu dalam bahasa Manado red-),” timpal Jefran mengkritisi.

Menurut aktivis vocal berdarah Borgo-Kema itu, sampai hari ini di DPRD Minut ada sekira 30 legislator. Sayangnya politikus  yang vokal memberikan kontribusi ide dan gagasan bisa dihitung dengan jari, sementara setengahnya 'bisu', bahkan soal kehadiran, mereka komplit alias lengkap… (Sudah diam dalam pekerjaan, kerap tak hadir pula).

"Ini fakta, setiap kali melihat pembahasan legislator bersama eksekutif, yang berbicara dan memberikan masukan atau ide atas apa yang dibahas, hanya legislator itu-itu saja.Kali ini kami baru sebut sejumlah, berikut bila masih seperti ini tanpa ada upaya peningkatan, kami akan sebut nama-nama mereka yang tidak punya semangat memperjuangkan suara rakyat,” sembur Jefran.

Dia juga menilai, kondisi kurang kreatifnya sejumlah legislator, sangat disayangkan. Sebab, sebagai wakil rakyat harusnya politikus mampu memberikan sumbangsih ide dan pikiran. “Jangan hanya jadi penonton yang digaji buta oleh Negara, padahal anda duduk di dewan, digaji sebagai Striker,” tanda pria yang akrab disapa Buds itu.

Sementara Stella Nona Rimporok salah satu srikandi DPRD Minut, enggan berkomentar lebih. Bahkan, politisi dari Partai Gerindra itu terkesan membela rekan-rekannya.
"Pandangan para aktivis dan wartawan, dimata saya, sah-sah saja sebab mengkritik demi membangun itu sangat baik. Tapi kalau saya diminta menilai kinerja rekan-rekan saya, kan tidak mungkin saya katakana bahwa legislator Minut memang benar sama yang dikatakan rekan-rekan aktivis dan wartawan,” ujar Rimporok.

Ditanya apa benar banyak politisi sudah pasif, jarang ngantor pula, sontak langsung ditampik wanita ramah namun cukup tegas itu. “Mingkin dalam waktu-waktu itu, mereka sedang tugas luar, atau berhalangan.  Kan kita tidak tahu persis mereka diam dan tak hadir, ternyata mereka sedang konsen dan fokus mengawal pembangunan daerah sesuai tugas dan fungsi," beber politisi asal Kecamatan Kalawat itu.

Kalaupun banyak anggota DPRD Minut yang terkesan menghindari wartawan, Rimporok mengajak wartawan untuk memaklumi sikap rekan-rekannya.

"Sampai saat ini, mungkin ada sedikit kekeliruan, contohnya saya dulu, enggan akrab dengan rekan-rekan wartawan, sebab saya mengira saya nanti di terjang dengan berita miring, nanti saat saya mengenal FORJUBIR lebih dalam, barulah saya sadari bahwa aktivis, wartawan dan media, adalah sarana transparansi kami mengangkat aspirasi masyarakat. Marijo torang baku cari kenal satu sama lain, biar saya akan ajak rekan-rekan saya untuk sekali-kali sharing dengan rekan-rekan wartawan dan aktivis tentang kemajuan Minut,” tandas politisi yang lama berkiprah di Negeri Jepang itu.(John)
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Redaksi | Layanan Iklan | Hubungi Kami
Copyright © 2013 - All Rights Reserved
Hosting by Manado Web Hosting Publikasi by Identitas Team
Kreasi by MWD