Iklan

KASUS MAFIA IJAZAH UNIMA MEMBEKU, PARA PELAKU MASIH GENTAYANGAN !!!

Posted by jhon simbuang on Sabtu, 11 Juni 2016

MANTAN REKTOR UNIMA (1999-2008) ANGKAT BICARA


Tondano, Identitasnews.com – Prahara yang melanda serta nyaris memporak-poranda nama besar Universitas Negeri Manado (Unima) di Kabupaten Minahasa Sulawesi Utara beberapa waktu lalu terkait praktik jual-beli ijasah berkedok Kuliah Jarak Jauh, ternyata MANDEK alias membeku laksana bongkahan es di Kutub Utara.

Kasus ber-aroma Perkuliahan Siluman yang telah memperkosa nasib puluhan ribu mahasiswa reguler di UNIMA sehingga membuat Kementerian Riset Teknologi Dikti (KEMENRISTEK DIKTI) mencopot Prof DR P Tuerah dari jabatannya sebagai rektor, sebenarnya cukup TEGAS, apabila kejelasannya berjalan sampai ada dampak dan final daripada drama itu.
Sangat disayangkan, karena pencopotan Rektor UNIMA itu terkesan hanya berupa sandiwara untuk meredam aneka tudingan miring dikalangan aktivis dan awak media saja, sedangkan mata rantai alias para antek yang terlibat didalamnya tetap saja laten dan tidak pernah disentuh oleh HUKUM, tak pelak dalam beberapa waktui saja, SKANDAL UNIMA tersebut mulai bereaksi lagi bagai gelombang air pasang.

Perlu diketahui bersama, beberapa waktu lalu, usai KEMENRISET DIKTI mengambil keputusan tegas atas skandal itu, sangat disayangkan kasus itu terkesan sirna bagai setetes air yang jatuh didalam sebuah kolam.
“Kemana dan bagaimana nasib para mafia kasus ijazah UNIMA yang telah melanggar  hukum dengan cara pembodohan terhadap mahasiswa bermodus kuliah jarak jauh itu,” tanya JEFRAN Herodes de’Jong aktivis Lembaga Investigasi – Tindak Pidana Korupsi dan Hukum Aparatur Negara (LI – TIPIKOR) kepada www.identitasnews.com Sabtu (11/6).
Lanjut Jefran, sudah jelas, skandal ini ilegal karena secara mutlak tidak ada ijin dari KEMENRISTEK DIKTI, serta merugikan ribuan pihak (para mahasiswa reguler), namun tetap saja dilakukan secara berjemaah sehingga mencoreng kebesaran nama besar ranah pendidikan Nasional ini.
Ia menyesalkan, sebab sampai detik ini belum ada tindak lanjut dan ketetapan hukum terhadap aktor intelektual seperti eks Rektor UNIMA dan antek-anteknya.
“Ini nyata –nyata sudah berbentuk sindikat yang bisa disebut EXTRA ORDINARY CRIME (KEJAHATAN LUAR BIASA) yang tak mungkin hanya dilakukan Tuerah saja. Masih banyak dosen dan pejabat terkait lainnya yang terlibat. Kenapa sampai saat ini lembaga hukum belum juga menetapkan tersangka,” sembur mantan Koordinator investigasi  Lembaga Social Control Sulut Corruption Watch (LSC-SCW) itu.

Jefran berjanji, akan menindak lanjuti kasus tersebut sampai ke Kejaksaan Agung dan Mabes Polri bila ternyata tidak ada peningkatan penanganan.
“Semoga dalam waktu dekat ini, pihak Polda dan Kejati Sulut menuntaskan kasus berupa aib di Unima ini. Kalau tidak, kali terpaksa akan menyerahkan masalah ini ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LI-TIPIKOR agar di hendel saja oleh Mabes Polri atau Kejaksaan Agung,” pungkas de’Jong.

Menanggapi hal itu, Prof. Dr. J L L Lombok SH.Msi, mantan Rektor Unima Periode (1999-2008) mengungkapkan keprihatinannya terhadap nasib UNIMA.

Menurut pria yang sangat berperan dalam merintis dan membesarkan nama kebesaran UNIMA itu, aib yang terjadi dalam sebuah universitas yang pernah di pimpinnya ini, harus mendapat penanganan serius dan tuntas.
"Saya turut prihatin mendengar tragedi memalukan ini. Skandal perdagangan ijazah tidak resmi itu layaknya sebuah bisnis barang ilegal tanpa izin. Siapakah yang bertanggungjawab dan terlibat  dalam kasus ini, dimana fungsi lembaga hukum yang di gaji negara lewat uang rakyat terhadap penanganan kasus di Negara kita ini,” tukas Lombok.
Sebagai Putera Sulawesi Utara yang sangat membanggakan UNIMA, Lombok begitu sedih menerima kenyataan pahit ini. “UNIMA adalah satu dari beberapa perguruan tinggi negara sekelas Universitas Indonesia dan Universitas Brawijaya, sayang kalau kebanggaan Sulawesi Utara ini harus karam seperti sebuah kapal besar yang hancur diterjang ombak,” timpal Lombok.

Ditanya siapa pejabat yang tepat menjadi memimpin UNIMA ke depan nanti, menurut Lombok, cukup runyam, mengingat UNIMA baru saja dihiasi aib memalukan. Tapi ia yakin, peran stake –holder dan pemerintah pusat masih solid.

"Pemimpin UNIMA yang akan terpilih nanti, akan kerja keras menyembuhkan luka yang menganga. Tapi saya rasa itu akan kembali normal seiring bergulirnya waktu. Stake – holder dan KEMENRISTEK DIKTI, masih solid untuk menentukan siapa yang akan mereka lantik, sebab pertanggungjawaban UNIMA nantinya, ada ditangan menteri yang melaporkan kepada Presiden RI,” beber Lombok yang kaya segudang ilmu itu.(Haris)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Berita Terkait

16.32.00

0 komentar:

Posting Komentar