Iklan

DISBUDPAR PEMKOT YOGYAKARTA SAMBUT TIM STUDI BANDING DISBUDPAR MINUT

Posted by jhon simbuang on Jumat, 20 Mei 2016

Yuliani: "Media nasional dan medias online, keuntungannya adalah semua nilai jual pariwisata dan kebudayaan daerah kita, bisa dibaca oleh dunia luar"

Yogyakarta, Identitasnews.com – Dalam rangka mempertajam destinasi wisata dan eksistensi kebudayaan Tanah Kumelembuay (TONSEA) di balantika zona wisata Nusantara, Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara terus menggali pengalaman dan resep jitu ke banyak daerah baik provinsi, maupun kabupaten-kota se Indonesia.
Kamis (19/5), Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) mengutus delegasi ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), khususnya Kota Yogyakarta (Jogja) sebanyak sepuluh (10) orang dibawah komando Kasi (Kepala Seksi) Pengembangan Jasa Wisata Mersi Sigarlaki dengan slogan MARIJO PASIAR KE MINAHASA UTARA.

Tim yang terdiri dari Kasi Museum, Sejarah dan Purbakala (Muskala) Dolvi Pateh, Kasi Pelestarian Nilai Budaya Fifi Wowor, Kasi Kesenian dan Bahasa Sandra Walukow, dan Kasi Pengembangan Objek Daya Tarik Wisata Pricilia Watung, menyertakan pula Sekretaris Dewan Kesenian Jean Waturandang, Elias Dirk, LSM Waraney Puser In Tana Toar – Lumimuut, John Simbuang, serta Fecky Mamahit, Wartawan Forum Juru Bicara Minahasa Utara (Forjubir Minut).

Rombongan baru diterima Disbudpar Kota Yogyakarta pada Jumat (20/5) oleh Kabid Kebudayaan Kota Jogja, Dra Pratiwi Yuliani diruang rapat pada pukul 09.30 wib.
Kedua Disbudpar dari kabupaten-kota berbeda saling memperkenalkan zona, situs dan poternsi wisata dan kebudayaan milik masing-masing.

Pemerintah Yogyakarta mengakui pesona daerah pantai di Kabupaten Minahasa Utara dan Provinsi Sulaewsi Utara, serta sajian kuliner ikan laut dari barbagai macam dan jenis, memiliki daya tarik dan ciri khas tersendiri.“Kami sudah pernah berkunjung ke Provinsi Sulawesi Utara, jadi sudah menikmati aneka kuliner disana. Itu punya ciri khas tersendiri dan mempunyai nilai jual yang tinggi,” puji Pratiwi.

Sesuai fakta yang ada, dibandingkan dengan Kota Yogyakarta, kendati memiliki luas wilayah jauh lebih besar dan luas, namun Kabupaten Minahasa Utara belum mampu mengejar dan menyamai kebesaran nama Kota dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Menurut Kabid Kebudayaan Kota Yogyakarta, Dra Pratiwi Yuliani faktor utama yang mendongkrak maju pesatnya segala sektor dan akses Pariwisata dan Kebudayaan di DIY dan Kota Jogja yang dikenal juga dengan sebutan Kota Gudeg ini adalah kebesaran dari Kesultanan dan Keraton Yogyakarta.
“Selain ritual dan tatanan di Keraton, Yogyakarta juga memiliki kelebihan yaitu multi etnis serta keanekaragaman budaya yang sempurna, sehingga kita tinggal mengemas semua itu dalam satu aktifasi seperti sosialisasi yang intens membentuk kelompok-kelompok atau paguyuban di kelurahan-desa,” bebernya.
Adapun dinamika aktivitas masyarakat yang mata rantainya bertalian dengan Pariwisata dan Kebudayaan di Kota Jogja, terus di survey Disbudpar sehingga angka peningkatan sudah terpantau dan dijadikan tolak ukur pemerintah dalam mengambil sikap positif.
“Masyarakat pelaku bisnis yang bertalian dengan Pariwisata dan Kebudayaan di Kota Yogyakarta yang hanya memiliki luas 32 Km2 (tigapuluhdua kilometer persegi) dengan penduduk 400. 000 jiwa ini, ada dua kategori yakni aktif dan pasif. Hal ini bisa mengalami peningkatan signifikan pada hari-hari tertentu. Contohnya pada Jumat 20 Mei, ada ritual lampion Umat Budha di Candi Borobudur, pasti konsentrasi di Kota Jogja kena imbas seperti para wisatawan yang mencari penginapan dan cendra mata,” jelas Kabid Kebudayaan Kota Yogyakarta, Dra Pratiwi Yuliani.

Dilihat sepintas, ada beberapa kemiripan dinamika antara Kota Jogja dan Kabupaten Minahasa Utara. Kalau di Jogja ada area sajian Kuliner berupa kue-kue produk asli dan menu-menu makanan khas seperti Gudeg dan aneka kue Bak-pia, di Minut juga ada hal itu.
Jika Yogyakarta punya kendaraan khas Andong (Delman) dan Becak, Minut memiliki Bendy dan Roda Sapi. Kalau Minut memiliki keunggulan seperti kolam-kolam pancing dengan sajian Ikan Mujair, Ikan Mas serta beberapa pantai wisata nan indah, Kota Yogyakarta tidak memiliki kekuatan pariwisata di area laut dan pantai.
Wilayah pantai di DIY adalah Parangtritis tapi itu berada di Kabupaten Bantul, Pantai Indra Yanti, Pantai Sepanjang dan Pantai Kukup di Kabupaten Gunung Kidul. Akan tetapi, kekurangan – kekurangan itu dapat di imbangi oleh Kota Yogyakarta dengan wilayah pusat hiburan dan perbelanjaan Malioboro.
“Sekali lagi, daya tarik pariwisata dan kKebudayaan kami terletak pada kharismatik Keraton, tapi satu hal yang perlu digaris bawahi adalah Sosialisasi dari pemerintah dan masyarakat yang butuh pengorbanan disertai rasa tanggungjawab pada kemajuan daerah, “beber Pratiwi Yuliani.

Ditambahkan Pratiwi juga, sukses yang mengantar Kota Jogja bertengger di urutan 2 daerah wisata terbesar di Nusantara sesudah Provinsi (Pulau Bali) juga, yaitu status Jogja dengan sebutan KOTA PELAJAR.
“Hampir semua daerah di Indonesia, anaknya sekolah dan kuliah di Yogyakarta, dengan demikian informasi tentang Yogyakarta kian hari kian melebar, dari mulut kemulut para pelajar maupun orangtua mereka yang berkunjung ke anaknya disini,” tukas Pratiwi.

Mengenai ekspos lewat pemberitaan, tambah Pratiwi, Pemerintah Kota Yogyakarta lebih memilih pemberitaan lewat media nasional dan media online. “Kalau media lokal, peredarannya hanya diseputar kota, provinsi dan kabupaten tetangga saja. Tapi kalau media nasional dan medias online, keuntungannya adalah semua nilai jual pariwisata dan kebudayaan daerah kita, bisa dibaca oleh dunia luar seperti Asia, Amerika dan Eropah,” tandas Kabid Kebudayaan Kota Yogyakarta, Dra Pratiwi Yuliani.(John)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Berita Terkait

21.30.00

0 komentar:

Posting Komentar