Iklan

Ada Bupati dan Jaksa Sebagai Mahasiswa, Namun Diduga Namanya Tidak Terdaftar di Akademik

Posted by jhon simbuang on Selasa, 10 Mei 2016

Meidy: “Bukan UNIMA - nya, Tapi Ada Aktor Dalangi Terbitnya Ijasah Palsu”

Tondano, Identitasnews.com – Nama baik Universitas Negeri Manado (UNIMA) salah satu perguruan tinggi ternama di Bumi Nyiur Melambai mulai tercoreng di mata masyarakat akibat merebak isu terbitnya ijasah palsu yang kini menjadi pembicaraan hangat di Tanah Toar Lumimuut.
Dugaan Skandal kuliah jarak jauh  mulai menodai institusi UNIMA dengan terkuaknya sejumlah pernyataan dan pengakuan korban dari praktik kuliah jarak jauh tersebut seperti kelas Nabire, kelas Sangihe, kelas Kotamobagu, dan kelas Remboken.

Awalnya kuliah jarak jauh tersebut berjalan lancar tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Akan tetapi belakangan mereka mulai mempertanyakan keabsahan status kemahasiswaan mereka.
Menurut salah satu mahasiswa kuliah jarak jauh sebut saja namanya ‘Leonel’… Setelah dirinya mengecek di bagian Akademik, ternyata namanya tidak terdaftar padahal sudah membayar puluhan juta Rupiah.

Belum lagi, dari 51 mahasiswa kuliah jarak jauh kelas Nabire atas nama ISAI ASDAUW yang tidak lain adalah BUPATI NABIRE, ada pula nama Tongging Banjar Nahor  Kajari Purbolingga yang termasuk penerima Ijasah S2 Administrasi Negara.
Dengan tidak adanya nama-nama tersebut dalam daftar akademik, apakah ijasah sarjana yang dipegang bersama title yang disandang para mahasiswa kuliah jarak jauh ini bisa dikata sah???

Hal ini mulai menjadi perbincangan santer di kalangan alumni UNIMA yang resah dengan nasib almamater mereka. Bahkan, para aktivis juga mulai mengangkat statement mengkritisi UNIMA agar tidak terpuruk dengan skandal serupa dan hanya menguntungkan segelintir oknum sambil merusak citra sebuah universitas ternama ini.
“Jelas saja ini bukan karna UNIMA-nya, tapi ada petinggi dan jaringannya di UNIMA yang diduga telah membentuk tim mafia Ijasah. Ini adalah kejahatan akademik,” tutur Meidy Tendean anggota Ormas Brigade Manguni Indonesia.
Ditambahkanya lagi, dugaan kasus ini harus segera di tangani pihak lembaga hokum seperti Polda dan Kejati Sulut bahkan Mabes Polri maupun Kejagung, mengingat skandal seperti ini merupakan tindakan penipuan tingkat tinggi yang sangat merugikan masyarakat terutama para sarjana murni.
“Ini sudah penipuan yang merugikan nasib para sarjana regular yang peluang mencari pekerjaannya kian sempit karena adanya kuliah jarak jauh yang menelurkan sarjana-sarjana siluman dalam waktu relative singkat,” tandas Meidy.
KEMENRISTEKDIKTI Muhammad Nasir ketika berkunjung ke Sulut beberapa waktu lalu menegaskan akan melakukan tindakan bagi para pelaku kejahatan akademik dan akan diserahkan ke aparat penegak hukum  karena unsur Pasal 67,68,69, UU No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS dan kuliah jarak jauh yang dilakukan oknum petinggi UNIMA adalah illegal,  sebab menjadi suatu kejahatan akademik, yang tertanggal 25 April  rektor UNIMA secara mendadak mengeluarkan Surat Edaran No 3374/UN41/PS/2016 tentang PERKULIAHAN HARUS DIDALAM KAMPUS.

Dengan menguritnya berbagai unsur dugaan ijasah bodong di UNIMA, kembali mengundang respon masyarakat umum untuk mengetahui siapa dalang dibalik semua ini. “Sebagai kontrol sosial masyarakat, kami akan segera menemui PR 1 UNIMA Bidang Akademik Prof DR. Harold Lumapow bersama Rektor UNIMA Prof DR. Philoteus Tuerah sebagai penanggung jawab kebijakan untuk mengkonfirmasi dan meminta keterangan,” ungkap Jemmy Saerang Ketua Ormas Brigade manguni Kecamatan Remboken Minahasa Senin (9/5).

Menurut informasi yang dirangkum Haris Tumbel dari www.identitasnews.com, saat menghubungi rektor untuk mengkonfirmasi tidak berada di tempat sementara dihubungi melalui via telepon, ponselnya dalam keadan tidak aktif.
“Ini sudah berkali-kali saya lakukan, tapi tetap saja gagal dan tidak ada itikad baik dari pihak kampus, sampai berita ini naik,” jelasnya.(Haris Tumbel)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Berita Terkait

10.09.00

0 komentar:

Posting Komentar