Iklan

Wouw… Proyek ‘Pelebaran’ Jembatan Dinamunen 2015, Habiskan Anggaran Hampir 5M

Posted by jhon simbuang on Senin, 11 Januari 2016

Diduga Terjadi Mark-up, Kejari Airmadidi Janji Akan Mendalami


Airmadidi, Identitasnews.com – Fungsi Balai Pemeliharaan Jalan Nasional (BPJN XI) Sulutgo, Satker Wilayah 1/PPK 06 Kairagi - Manado - By-Pass – Bitung, menjadi buah bibir masyarakat khususnya terkait proyek perbaikan jembatan DINAMUNEN di Kelurahan Airmadidi Bawah Kecamatan Airmadidi Minut.

Awalnya masyarakat tidak menggubris apa yang dikerjakan kontraktor pelaksana tersebut. Tapi karena proses perbaikan jembatan DINAMUNEN sempat menimbulkan kemacetan kendaraan sampai berjam-jam, mulailah masyarakat menyelidiki dan mencari cela terhadap pekerjaan miliaran Rupiah namun bisa dikata, tidak safety itu.
“Masa pekerjaan Dana APBN kong pekerja nda pake perlengkapan pelindung, seperti helm pengaman, sepatu boot dan hanskun serta sabuk dan lainnya,” ujar M Ilham sopir yang kebetulan melintas jaalan/jembatan itu.
Para pengguna jalan yang sudah melalui jembatan Dinamunen yang sedang diperbaiki itu ternyata sempat tercengang juga saat melihat anggaran di papan/plang proyek.
Pasalnya, pekerjaan proyek itu hanya perbaikan jembatan. Proyek pelebaran jembatan itu dari sumber Dana APBN-P Rp. 4,976,009,000.00(Empat Miliar Sembilan Ratus Tujuhpuluh Enam Juta Sembilan Ribu Rupiah), dengan Tanggal kontrak 15 Sebtember 2015, 107 hari kerja kalender.

Berdasarkan pentauan sejumlah wartawan di Biro Minahasa Utara dan informasi yang dirangkum, cara kerja pihak pelaksana tergolong berani, padahal pekerjaan begitu ramai setiap hari. Separuh jembatan sudah dibongkar, sedangkan sisi sebelahnya lagi hanya memakai tumpukan kayu dari batang kelapa saja tanpa jembatan darurat.
Menjelang akhir tahun 2015, pekerjaan tersebut sudah terhenti seiring raibnya plang alias papan proyek yang sebelumnya terpampang di samping kiri depan dari jembatan.

Sepeninggal pelaksana, Jembatan Dinamunen Nampak tidak ada pelebaran signifikan. Malahan selain sisa pekerjaan telah meninggalkan gundukan tanah yang berisiko bagi pengguna jalan, bila ada kendaraan besar lewat jembatan itu, getaran begitu terasa.
“Katanya pelebaran jembatan hampir 5 miliar, masak hasilnya hanya seperti ini,” tanya Pak Merton yang kebetulan lewat kemudian memarkir sepeda motor Bionic Putihnya.
Baru beberapa saat melihat-lihat, lelaki paruh baya itu sempat terperanjat ketika sebuah dam-truk bermuatan lewat jembatan itu, gara-gara jembatan mengeluarkan getaran cukup kuat. “Astaga, kenapa bisa seperti ini, lama-lama jembatan ini bisa ambruk karena bergoyang seperti ini,” ujar dia seraya melanjutkan perjalanan kearah Tondano.

Beberapa waktu lalu, Nunung Tangi selaku Direktur PT Mulia Solusi Perkasa sebagai perusahaan pelaksana pekerjaan, saat dihubungi via ponsel 08134189XXXX, mengaku yang mana pihaknya sudah bekerja profesional dan sesuai kontrak.
"Sebelum kami kerja, Pak Martinus Bandoso sempat mengajak dan memperingatkan kami untuk kerja maksimal, dan kami sudah melakukan itu,” katanya dari seberang pembicaraan Senin (24/11) silam.

Nominal dana pekerjaan proyek Jembatan Dinamunen hampir mencapai 5 miliar Rupiah,  itu bukan jumlah uang yangh kecil, namun menurut Nunung mengaku, jumlah itu tidak seutuhnya menjadi bagian pihaknya.
“Walau perusahaan kami bertindak sebagai pelakasana,  tapi ada perusahaan lain dari Makassar selaku penyedia BALOK – T,” jelasnya seraya menambahkan, Harga Balok T yang dibutuhkan, mencapai dua (2) Miliar Rupiah. “Jadi kami hanya mengelolah sebagian dari dana APBN-P itu,” ungkap Nunung.

Nunung Tangi juga menambahkan, pada RAB dan Kontrak  memang tidak ada item pembuatan jembatan darurat, sebab selain tidak disertakan dana ganti rugi pembebasan lahan, batas waktu pekerjaan terlalu singkat.
"Kalau tidak ada dalam RAB dan kontrak, masak saya harus buat jembatan darurat itu, kami kerja menuruti semua yang diturunkan pihak BPJN XI. Kalau tidak ada dana kemudian saya bangun jembatan darurat, bagaimana nasib saya nanti, " keluhnya.

Demi memuluskan dan memperlancar pekerjaan itu, Nunung juga mengaku mellibatkan pemerintah setempat. "Dengan demikian, kita bisa bahu-membahu melakukan pengawasan, sampai pekerjaan tuntas. Kalau pekerjaan sudah selesai, saya akan ajak rekan-rekan wartawan," pungkas dia.

Sangat disayangkan, pihak BPJN XI selaku instansi pemerintah terkait pengawasan dan pelaksanaan proyek tersebut, seperti biasanya, sangat sulit di-konfirmasi. Padahal, dari pengakuan pihak pelaksana, Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Wilayah Satu Ir. Ruddy Waani, BPJN XII dan PPJN, berkantor di Desa Suwaan Kecamatan Kalawat Minut.

Sedangkan Martinus Bandoso yang menurut pengakuan Nunung Tangi adalah Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)  atas proyek itu, saat dihubungi via ponsel dengan short massages service (sms) di nomor ponsel: 081341029xxx, sampai berita ini naik, tidak memberi tanggapan.
Padahal selaku ASN yang merupakan pelayan publik, baik Kasatker maupun PPK, semua harus terbuka sesuai Undang-undang Keterbuakaan Publik / Undang-undang Transparansi.

Kepada Kajari Airmadidi, masyarakat Airmadidi meminta untuk turun lapangan sekalian melakukan audit. “Dugaan saya, proyek itu sudah di mark-up, sebab pekerjaan yang dilakukan hanya mengganti lantai/alas jembatan saja. Sebagai aparat hokum, apa salahnya Kajari Airmadidi mendalami pekerjaan itu, sebab ini bicara uang Negara yang tidak kecil, sedangkan hasilnya hanya segitu saja,” pinta beberapa warga.
Kasi Intel Kejaksaan Negeri Airmadidi, Hendra Wijaya Kamal SH. MH ketika dikonfirmasi terkait proyek jembatan Dinamunen itu, membenarkan kalau pihaknya telah turun memantau hasil dari proyek itu. Dirinya berjanji akan menelusuri lebih rinci keabsahan proyek tersebut.
“Kita sudah turun lapangan waktu proyek itu sementara dikerjakan. Kemudian diakhir pekerjaan juga, kita sudah turun memantau. Dalam waktu dekat kami akan lebih mendalami juknis pelaksanaannya untuk masuk ke penyidikan,” kata mantan Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Toli-toli itu.(Adit/Ficky/Meikel)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Berita Terkait

01.31.00

0 komentar:

Posting Komentar