Iklan

40 Tahun Lebih Warga Kembang Merta Raya di Anak-Tirikan

Posted by jhon simbuang on Rabu, 18 November 2015

“Dari Tulang Kami Berwarna Putih, Sampai Tulang Kami Berubah Jadi Warna Hijau, Kami Tidak Pernah Memiliki jalan Aspal"
Bolmong, Identitasnews.com - Siapa sih tidak kenal dengan Pulau Bali (Provinsi Bali) yang begitu mempesona karena kecantikan alam dan aneka adat istiadat beserta tradisi suku sehingga dinamai Pulau Dewata. Keindahan dan daya tarik masyarakat dan charisma Pulau Bali, bukan hanya masyur didalam negeri saja, tapi sampai ke mancanegara.
Sebagai satu rumpun bangsa Indonesia, tentu saja kita turut bersyukur karena ketenaran Pulau Bali yang men-dunia itu adalah bagian dari Negara kita yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sesudah Gunung Agung di Bali meletus (sekitar tahun 1964 silam), Pemerintah men-transmigarasi-kan masyarakat Bali sekitar Tahun 1965, ke Desa Modomang Kecamatan Dumoga (dulu Kabupaten Bolmong belum dimekarkan).
Karena terkesan tidak ada perhatian serius dari pemerintah, walau masyarakat transmigran Bali diberi lokasi berupa sebuah lahan luas, namun lahan itu masih berbentuk hutan rimba belantara. Karena tak ada pilihan lain, mau tidak mau, dengan modal dan alat sederhana, para transmigran-pun mulai merambah dqan membuka hutan belantara tersebut menjadi Desa KEMBANG MERTHA.
"Dulu kami membongkar hutan belantara. Kalau menebang sebatang pohon saja, kami harus sampai dua hari lamanya," kata I Wayan Suwarta (81) warga Desa Amertha Sari.
Hidup mereka, lanjut pria ber-anak tujuh itu bersama saudara senasibnya, pantang menyerah. Alhasil, walau hidup sederhana dari hasil pertanian, kendati masih diperlakukan sebagai kaum minoritas oleh pemerintah setempat, lambat laun masyarakat transmigrasi Bali di Desa Kembang Mertha khususnya, terus berbenah sehingga tidak kalah dengan masyarakat lokal lainnya.
“Kini Desa Kembang Merta sudah dimekarkan menjadi empat (4) desa yaitu Kembang Merta, Kembang Sari, Amertha Sari, serta Amertha Buana,” tutup lansia yang masih memiliki sepasang mata yang tajam itu.

Kembang Mertha Raya, apabila pemerintah mau serius dalam memoles daerah transmirasi Bali ini, sebetulnya keidahan Desa Transmigrasi Bali ini tidak kalah dengan daerah asalnya yaitu Provinsi Bali. Pasalnya, semua yang dilakukan masyarakat Adat Bali di Pulau Dewata, juga dilakukan oleh masyarakat BALI DUMOGA (Kembang Mertha Raya).
Terutama pasa saat warga melakukan upacara tradisi, serta ritual keagamaan pada waktu-waktu tertentu, semua yang dilakukan di Bali, dilakukan di desa - desa tersebut. Kalau masyarakat Pulau Bali memiliki Polisi Adat dengan nama PECALANG, di Kembang Mertha Raya juga ada PECALANG.
Kembang Mertha Raya, adalah empat desa penopang Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow. 
Tapi siapa sangka kalau selama lebih dari 40 tahun, Kembang Mertha Raya belum memilikki "Jalan Aspal". 
Menurut keterangan masyarakat setermpat, I Nyoman Sarpe (Sangadi atau Kepala Desa Kembang Mertha pertama), perintis terbentuknya Desa Kembang Mertha dahulu, dirinya sangat berharap desa ini memilikki jalan aspal. "Sangat disayangkan, sampai belau meninggal dunia, hingga hari ini, harapan beliau tidak pernah terwujud," tutur I Wayan Suwarta salah satu tetua kampung. 
I Ketut Bagiasa, Pecalang generasi ke-dua masyarakat Transmigran Bali di Desa Amertha Sari kepada media ini mengatakan yang mana masyarakat setempat sudah punya semboyan. Karena kerinduan memiliki jalan aspal tak pernah terwujud, masyarakat Kembang Mertha Raya melahirkan semboyan konyol yaitu;  “Dari Tulang Kami Berwarna Putih, Sampai Tulang Kami Berubah Jadi Warna Hijau, Kami Tidak Pernah Memiliki jalan Aspal".

Bukan itu saja, selain jalan aspal tak kunjung ada, masyarakat Kembang Mertha Raya yang mayoritas bekerja sebagai petani lading dan petani sawah, sering kali tidak merasakan bantuan pemerintah seperti pupuk, bibit, maupun sarana pertanian seperti hand-traktor dan sejenisnya. “Selain itu, drainase disini baru akhir-akhir ini mulai di-perhatikan,” pungkas Bagiasa.(TIM)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Berita Terkait

00.01.00

0 komentar:

Posting Komentar