Iklan

Huat Praperadilan Polres Minut Terkait Penahanannya

Posted by jhon simbuang on Rabu, 19 Agustus 2015

Bawotong: "Dari mana kekuatan hukum aparat menahan orang, tanpa alat bukti Pasal 303"

Airmadidi, Identitasnews.com - Kesigapan aparat hukum membasmi penyakit masyarakat berupa perjudian jenis Kupon Putih atau Toto Gelap, patut diberi aplaus oleh masyarakat Sulawesi Utara.
Seperti kita ketahui bersama, 23 hari (28 Juli 2015) yang lalu,  tim Buru Sergap (Buser) Polres Minut, menjemput paksa pria Tan Tong Huat warga Kayuwatu, di Desa Kumuh Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa.

Pria yang akrab disapa Ko Huat itu langsung digelandang ke Mapolres Minut dan diamankan di ruang tahanan.

Kapolres Minut AKBP Eko Irianto melalui Kasat Reskrim AKP Costantine Samuri, ketika dikonfrmasi 
wartawan(29 Juli sehari sesudah penahanan) silam, membenarkan kejadian itu.

"Dia ditahan berdasarkan hasil pengembangan dari 3 tersangka yang
sebelumnya sudah kami proses dan dilimpahkan ke kejakasaan dan pengadilan. Sesuai petunjuk dari kejaksaan, ia dijadikan tersangka dan langsung ditahan, untuk menjalani proses lebih lanjut," katanya kepada wartawan.

Menurut keterangan Benny sopir Ko Huat, dihari penangkapan itu, ia dan Ko Huat menuju ke Desa Kumuh untuk membayar kopra milik warga.

Memasuki perkebunan Tambelang (2 km sebelum Desa Kumuh,s
opir melihat sebuah Kijang Avanza berwarna putih mengikutinya sampai rumah yang merupakan kantor tempat Ko Huat membeli Kopra milik warga setempat.

"Empat orang Buser langsung  mendekati Ko Huat, usai berjabat tangan memperkenalkan diri, ke-empat polisi itu duduk-duduk didepan rumah. Ko suruh saya menyediakan makan untuk mereka,
dan mereka makan bersama bahkan sempat minum bir," kata saksi. 

Beberapa saat kemudian, lanjut
Benny, salah satu anggota Buser mengeluarkan surat, diperlihatkan kepada Ko Huat. 
"Kemudian Ko mengajak saya mengantar Ko yang dikawal 2 anggota Buser menuju Polres Minut, lalu Ko ditahan," tutupnya.

Saksi kedua, Ibrahim Lakoro mengatakan,
menurut pengalamannya, proses penangkapan dan  Administrasi penangkapan sampai penetapan tersangka, ada kebijakan di ambil tanpa memikirkan serta pengkajian mendalam.
 "Sesuai pengalaman saya, sistem yang dilakukan aparat dalam penangkapan Ko Huat itu sudah menyalahi prosedur tetap terutama penetapan status tersangka 303 tentang perjudian," kata mantan polisi itu.  

Sementara
di waktu dan tempat yang sama, Tan Tong Huat (Ko Huat red-) melalui kuasa hukum Max Bawotong SH dan Pengacara Pendamping, Edo Ratag SH mengaku tidak terima klien-nya diperlakukan seperti itu.
"Harusnya aparat sedikit manusiawi dan mengacu dari protap," tutur Bawotong.

Dirinya menganggap proses penangkapan dan penahanan serta penetapan tersangka bagi Ko Huat, terdapat beberapa keganjilan.  
"Dari mana kekuatan hukum aparat menahan orang, tanpa alat bukti Pasal 303, atau berupa panggilan lisan maupun tulisan, atau pemberitahuan jenis apapun," sembur Bawotong. 

Karena tidak sesuai protap, Bawotong mempertanyakan, Hukum macam apa yang dipakai oleh Buser Polres Minut terhadap kliennya. 
"Ini adalah
Delik Aduan. Salah satu syaratnya yaitu, memiliki paling sedikit 2 alat bukti yang cukup. Bukan malah memakai alat bukti orang lain dengan menetapkan orang lain sebagai tersangka. Ini menyangkut nama baik dan HAM," tukas Bawotong.

Pihaknya, lanjut Bawotong, mempertanyakan apakah proses penangkapan pihaknya
, sudah mengacu pada KUHAP yang merupakan barometer dan standarisasi hukum sudah jalan. 

"Kalau proses hukum lewat KUHAP, sudah dijalankan sesuai protap, sebagai Warga Negara Republik Indonesia yang taat hukum, kami siap. Tapi, bila tidak prosedural, sebaiknya Polri, khususnya Polres Minut berbenah diri. Jangan sampai masalah seperti ini membawa perseden buruk bagi institusi Polri," tandas pengacara yang saat ini sedang naik daun itu.(John) 

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Berita Terkait

19.56.00

0 komentar:

Posting Komentar