Iklan

Akhirnya Warga Kuwil, Kaleosan Dan Sampiri Punya Jembatan... Darurat

Posted by jhon simbuang on Selasa, 16 Juni 2015

Airmadidi,identitasnews.com – Akhirnya kerinduan masyarakat tiga Desa yakni Desa Kuwil, Kaleosan, dan Desa Sampiri, terobati sudah.
Seperti kita ketahui bersama, pada 15 Januari 2014 silam, jembatan yang menghubungkan Desa Kawangkoan dan ketiga desa tersebut harus putus usai diluluh-lantak oleh bencana alam terbesar di Provinsi Sulut sehingga 3 desa itu sempat terisolir.


Sabtu (13/6/2015), Bupati Minahasa Utara (Minut) Drs Sompie Singal MBA, bersama rombongan, turun langsung meresmikan jembatan Kuwil di Kecamatan Kalawat tersebut.

Sesuai pantauan wartawan media ini walau masi berbentuk darurat karena hanya terbuat dari kayu mangga serta masih memakai tiang bekas penyangga jembatan patah dulu, namun setidaknya jembatan Kuwil itu sudah bisa dilalui kendaraan roda empat.
“Setelah kejadian 15 Januari 2014 silam, jembatan ini sudah 4 kali dibangun. Pertama menggunakan bulu pake kawat, kedua anyaman bambu, ketiga jembatan kayu yang boleh dilalui kendaraan roda dua, sekarang jembatan kayu yang boleh dilewati kendaraan roda empat,” tutur Hengkie Runtuwene Kumtua Desa Kuwil.
Menurut Hengkie, pembangunan jembatan dilakukan atas swadaya masyarakat dibantu TNI, Karang Taruna serta dukungan dana dari Pemkab Minut. ”Ini semua tak luput dari peran serta seluruh kalangan masyarakat kami di tiga desa juga, ” ungkapnya.
Beberapa saat kemudian, Bupati Minut Sompie Singal sendiri di dampingi Kumtua Kuwil dan beberapa jajaran, melakukan gunting pita, dan kendaraan dinas DB 1 F yang biasanya di tumpangi Bupati, langsung melewati jembatan itu.
Pada sambutanya Bupati memberi apresiasi yang tinggi pada masyarakat. Bupati juga menilai warga Kuwil dan sekitarnya tergolong masyarakat yang berdikari serta masih lekat dengan budaya Mapalus.
“Praktik seperti ini mengingatkan saya pada amanat Pak Presiden RI dalam kunjungannya beberapa waktu lalu. Presiden meminta agar rakyat Indonesia senantiasa melakukan usaha dan pekerjaan secara gotong royong. Nah gotong royong itu kalu torang pe bahasa berarti Mapalus,” kata Sompie seraya melemparkan senyum.
Dirinya juga tidak lupa menghimbau agar masyarakat tetap menjaga persatuan, kerukunan antar umat beragama. ”Kebersamaan ini adalah cerminan masyarakat yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Ini wajib kita lakukan bersama-sama sambil menunggu bantuan perbaikan jembatan permanen, jembatan yang ada sekarang dirawat baik-baik,”pungkas Singal.(John/Adhit)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Berita Terkait

23.55.00

0 komentar:

Posting Komentar